Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Smart Agriculture, Saatnya Dunia Jaga Petani dari Perubahan Iklim

TrubusNews
Astri Sofyanti
11 Okt 2019   13:00 WIB

Komentar
Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Smart Agriculture, Saatnya Dunia Jaga Petani dari Perubahan Iklim

Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry ketika membuka Global Science Conference on Smart Agriculture mewakili Mentan Amran di Jimbaran, Bali, Kamis (10/10) (Foto : Dok Kementerian Pertanian)

Trubus.id -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi menjadi negara pertama di kawasan Asia yang ditunjuk sebagai tuan rumah Global Science Conference on Smart Agriculture yang ke-5. Perhelatan yang dihadiri negara-negara besar ini digelar di Ayana Hotel, Kawasan Jimbaran, Bali, belum lama ini.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang diwakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry, menekankan bahwa pertemuan sebesar ini sudah seharusnya mengangkat tema perubahan sistem pangan dalam kondisi perubahan iklim.

"Tema tersebut mengimplikasikan bahwa kita tetap harus bergerak untuk produksi pangan dengan memikirkan fase panen, pasca panen serta fase konsumsi," kata Fadjry di Jakarta, Jumat (11/10).

Baca Lainnya : Dorong Percepat Tanam Padi di Kabupaten Karanganyar, Kementan Serahkan 6 Unit Pompa

Menurutnya, perubahan iklim yang terjadi selama beberapa tahun terakhir telah menempatkan petani pada situasi yang sulit, serta lebih rentan dari berbagai ancaman dan gangguan. Apalagi Indonesia sebagai negara agraris dihantam banyak tantangan cuaca dan iklim yang ekstrim.

"Ke depan, tantangan kami adalah bagaimana menghasilkan strategi manajemen berbasis sains untuk meningkatkan kapasitas petani dalam beradaptasi dengan iklim ekstrem dan meningkatkan ketahanan sistem pertanian mereka," jelasnya.

Masih berkaitan dengan iklim, Fadjry menilai hal itu berdampak langsung pada tingkat konsumsi masyarakat sehari-hari. Masalah ini, kata dia, seperti pada posisi makanan sisa yang terbuang percuma karena pangan yang ada jumlahnya sangat melimpah di satu level. Disisi lain ada juga kasus kekurangan makanan dan masalah gizi.

Baca Lainnya : Jamin Produksi Pangan, Kementan Dorong Kabupaten Toli-Toli Pertahankan Luas Lahan Pertanian

"Hal ini sangat berkaitan dengan perilaku manusia itu sendiri dan untuk mengubahnya tergantung strategi yang digunakan. Inilah salah satu alasan mengapa konferensi Global Science dilaksanakan. Dimana para peneliti kelas dunia dari berbagai negara berkumpul mencari jalan keluar," paparnya.

"Saya menyadari bahwa hingga saat ini belum ada kementerian atau instansi pemerintahan di negara yang bergerak mengatasi food waste dan isu bukan lah hal yang mudah untuk diajukan ke para penentu kebijakan," lanjut Fadjry.

Selain itu, dirinya menambahkan, jika tema iklim dan penangananya terus menguat hingga dibahas di meja bunder dunia, maka, konferensi ini akan menghasilkan strategi baru dalam meminimalisir mubazirnya makanan di setiap negara masing-masing.

Baca Lainnya : Stok Beras 5,49 Juta Ton, Kementan: Beras Surplus Sampai Akir Tahun

Meski begitu, dirinya menyadari akan adanya tantangan tersendiri dalam penyusunan, terutama yang berkaitan dengan struktur pemerintahaan saat ini di hampir setiap negara. Untuk itu, Fadjry memandang perlunya sistem integrasi antara sistem produksi dan pola konsumsi yang lebih arif dan bijaksana. Dengan demikian, setiap produksi yang dihasilkan tetap ramah lingkungan dan mampu mengangkat kesejahteraan petani.

"Kita perlu melakukan upaya maksimal dengan cara meningkatkan produksi pangan, namun tidak menambah jumlah emisi gas rumah kaca. Sekali lagi, saya yakin bahwa konferensi ini akan dapat mengusulkan strategi untuk peningkatan produksi dan sistem konsumsi dengan dampak negatif lingkungan secara minimum," tandasnya.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: