Bangunan di Indonesia yang Rawan Akan Gempa, Harus Gunakan Baja Ber-SNI

TrubusNews
Syahroni
09 Okt 2019   06:00 WIB

Komentar
Bangunan di Indonesia yang Rawan Akan Gempa, Harus Gunakan Baja Ber-SNI

Atap baja ringan Taso produksi PT Tatalogam Lestari. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sesuai Peraturan Menteri Perindustrian No 14 Tahun 2018 yang diturunkan lagi menjadi Surat Edaran Menteri Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) No 13 Tahun 2019, pemerintah mewajibkan penggunaan tulang baja konstruksi bangunan memiliki label Standar Nasional Indonesia (SNI). Kewajiban SNI dilakukan untuk mengurangi serbuan baja impor yang tidak berstandar sejak 2005 silam.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Konstruksi PUPR, Syarif Burhanuddin menjelaskan, dampak dari banjirnya impor tulang baja itu adalah kualitas bangunan yang kurang kuat. Dan hal ini tentunya sangat berpengaruh bagi masyarakat Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana alam.

"Sementara wilayah kita ini adalah wilayah ring fire, yang bencana alamnya sangat besar dan cenderung kena akibat gempa. Untuk mengamankan bangunan dari gempa salah satunya adalah kualitas bangunan. Kualitas bangunan sangat ditentukan oleh tulang baja," kata Syarif saat menggelar sosialisasi Surat Edaran tersebut di Gedung Kementerian PUPR, Jakarta Selatan, Selasa (8/10).

Lebih lanjut, Syarif mengatakan bahwa sosialisasi penggunaan tulang baja SNI ini menyasar pada tiga kelompok. Pertama, seluruh pengguna jasa, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Kedua, pihak penyedia, seperti konsultan dan kontraktor. Ketiga, produsen baja.

Terkait serbuan baja impor ini, Stephanus Koeswandi, Vice President  PT Tatalogam Lestari sebagai produsen pemegang beberapa merek dagang produk baja mengatakan, baja ber-SNI sangat penting untuk menjaga keselamatan masyarakat. Karena itu perusahaannya selalu mengedepankan mutu serta kualitas produksinya sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.

“Kami selalu menjaga kualitas dan menjaga konsistensi. Terbukti selama 25 tahun ini tidak pernah ada satu pun complain mengenai kualitas. Jadi ini merupakan suatu ketenangan bagi pelanggan pemilik rumah dimana rumah-rumahnya selalu berwarna cemerlang dan juga untuk distributor kami pelanggan toko-toko kami, mereka dengan percaya diri menjual produk-produk baja kami,” terang Stephanus saat dijumpai di puncak perayaan 25 tahun berdirinya PT Tatalogam Lestari di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (8/10).

Vice President PT Tatalogam Lestari, Stephanus Koeswandi dengan pakaian adat Kalimantan di puncak perayaan 25 tahun berdirinya Tatalogam yang digelar di Hote Mulia, Jakarta, Selasa (8/10). (Foto: Trubus.id/ Syahroni)

PT Tatalogam Lestari sendiri merupakan perusahaan baja ringan yang sudah 25 tahun berdiri dan sudah mengantungi SNI untuk semua produknya. Selama itu pula, produk atap baja produksi mereka juga sudah mengatapi seluruh wilayah di Nusantara. Saat ini perusahaan ini sudah memiliki 174 agen distributor dan 6.000 outlet yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. 

Pada awal berdirinya di tahun 1994 silam, perusahaan ini memproduksi genteng baja dengan merek Multi Roof. Sebagai pemegang hak paten Genteng Logam 2 Susun pada waktu itu, Multi Roof menjadi pilihan utama konsumen di Indonesia karena kualitasnya yang sudah tidak diragukan lagi. 

Saat krisis ekonomi 1998, PT Tatalogam tetap bertahan dengan strategi memasarkan produk genteng baja yang ekonomis tapi berkualitas prima, yaitu merek Sakura Roof. Di tahun 2006, Tatalogam mulai memproduksi rangka atap baja ringan dengan merek TASO yang dengan segala keunggulannya kemudian menjadi pilihan utama bagi konsumen di seluruh nusantara yang mengganti rangka atap kayu rumahnya dengan baja ringan yang lebih aman. 

Sebagai komitmen untuk mempertahankan kualitas produknya, beberapa produk Tatalogam telah menjalani tes di laboratorium uji di Amerika dan mendapat sertifikasi ketahanan terhadap  api, salju dan angin dengan rating yang memenuhi standard.

“25 tahun ini kami sudah mengatapi Nusantara. Harapannya 25 tahun ke depan kami bukan hanya mengatapi Nusantara tapi kami akan mengatapi seluruh dunia. Dan ini sudah kami mulai bahwa produk tata logam ini telah tersertifikasi ASTM, ASTM ini adalah standar Amerika yang digunakan di amerika. Jadi kami dalam beberapa bulan ke depan akan merambah pasar Amerika dan juga pasar-pasar Asia Tenggara lainnya,” terang Stephanus lagi.

Sementara itu, terkait kualitas produk Tatalogam sendiri, hal itu pun diakui beberapa pengusaha baja di tanah air yang sudah cukup lama menjadi distributor baja produksi PT Tatalogam. Soetedjo, pemilik CV Multi Mandiri yang berlokasi di Papua mengatakan, produk baja dari Tatalogam sangat terjaga kualitasnya sehingga sangat aman digunakan di Indonesia yang rawan bencana alam. Tak hanya itu, Tatalogam juga rutin mengeluarkan inovasi baru setiap tahunnya. 

“Serangan baja impor tidak terlalu mempengaruhi kami dari distributor Tata logam. Karena produk Tatalogam itu mutunya sangat baik dan sangat unggul di pasaran. Tata logam juga rutin mengeluarkan inovasi baru,” terangnya di kesempatan yang sama. [RN]
 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: