Tiga Spesies Kodok Endemik Sumatera Bukti Indonesia Miliki Keanekaragaman Hayati

TrubusNews
Astri Sofyanti
08 Okt 2019   17:30 WIB

Komentar
Tiga Spesies Kodok Endemik Sumatera Bukti Indonesia Miliki Keanekaragaman Hayati

Peneliti LIPI memperlihatkan jenis katak yang ditemukan di hutan dataran tinggi Sumatera di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Selasa (8/10/19) (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Indonesia menjadi negara yang memiliki keanekaragaman hayati. Untuk membuktikannya, berbagai penelitian dan riset terus dilakukan untuk mengeksplorasi potensi tersebut. Guna membuktikan potensi keanekaragaman hayati di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap keberadaan tiga jenis spesies kodok baru di Pulau Sumatera.

Peneliti bidang herpetologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidiy mengatakan, tiga jenis kodok wayang yang ditemukan di hutan dan dataran tinggi Sumatera pada tahun 2019 meliputi Sigalegalephrynus burnitelongensis dari Gunung Burni Telong, Aceh yang ditemukan di daerah utara Sumatera, Sigalegalephrynus gayoluesensis dari Gayo Leus, Dataran Tinggi Aceh dan Sigalegalephrynus harveyi berasal dari gunung Dempo, Sumatera Selatan.

Ketiga jenis kodok wayang endemik Sumatera (Foto: Astri Sofyanti/Trubus.id)

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Cahyo Rahmadi mengugkapkan bahwa tiga jenis baru kodok ini sebenarnya ditemukan oleh Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Irvan Sidik.

“Tiga jenis ini kami temukan pada tahun 2019, sementara dua jenis Sigalegalephrynus lainnya ditemukan pada tahun 2017. Jadi kami sudah menemukan lima jenis kodok wayang. Mereka semua tersebar di pegunungan di wilayah Sumatera. Jadi sebarannya per jenis ini hanya akan ditemukan didataran tinggi saja,” jelas Amir dalam temu media di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat, Selasa (8/10).

Baca Lainnya : Ditemukan, Jenis Baru Katak Tanduk dari Hutan Kalimantan

Irvan Sidik mengungkapkan, bahwa genus Sigalegalephrynus memiliki lebih banyak spesies endemik dibandingkan genus kodok lainnya di Indonesia. Hasil analisis filogenetik mengindikasikan terdapat perbedaan taksonomi antara kodok di dataran tinggi utara dan selatan.

“Hasil identifikasi karateristik morfologis, genetik dan akustik dari ketiga spesies baru tersebut berbeda dengan dua spesies genus Sigalegalephrynus sebelumnya yaitu Sigalegalephrynus mandailinguensis, dari gunung Sorikmarapi, Sumatera Utara dan Sigalegalephrynus minangkabauensis dari gunung Kunyit, Jambi,” ujar Irvan. Penemuan jenis baru ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa vol. 4679.

Lebih lanjut Amir mengungkapkan, karena habitatnya di dataran tinggi Sumatera, Sigalegalephrynus masuk ke dalam kategori krisis, pasalnya kawasan hutan di wilayah tersebut sudah sangat sempit.

“Maka di dalam jurnal, kami juga sangat memperhatikan status konservasi yang sudah masuk ke kategori krisis, karena tingkat keterancamannya baik terhadap habitat dan yang paling utama adalah kerusakan habitat. Karena dia berada di hutan di dataran tinggi juga sangat riskan terhadap gunung api meletus. Ketika Gunung Sinabung di Sumatera Utara meletus juga cukup mengancam populasi Sigalegalephrynus,” pungkasnya.

 

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: