Gempa Susulan di Ambon Tercatat 1.149 Kali hingga Senin Pagi

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
07 Okt 2019   08:30

Komentar
Gempa Susulan di Ambon Tercatat  1.149  Kali hingga Senin Pagi

Posko Gempa Mal Provinsi Maluku (Foto : BNPB)

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, gempa magnitudo 3,4 kembali dirasakan warga Ambon, Maluku pada Senin (7/10) 02.15 WIT. Menurut laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), 1.149 kali gempa susulan telah terjadi pascagempa M 6,5  pada 26 September lalu.

Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan dini hari tadi (7/10), pukul 02.15 WIB, gempa M 3,4 dengan kedalaman 10 km masih terjadi dan dirasakan warga. Pusat gempa tersebut berada di laut sekitar 24 km timur laut Ambon. Dilihat dari rangkaian gempa susulan, frekuensi cenderung turun,

"Dari total yang direkam BMKG 1.149 kali gempa susulan 122 di antaranya dirasakan oleh warga," jelas Agus melalui pesan singkat.

Agus menjelaskan, data BPBD Provinsi Maluku per 6 Oktober 2019, pukul 18.00 WIT mencatat total penyintas berjumlah 134.600 jiwa, dengan rincian Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) 90.833 jiwa, Seram Bagian Barat (SBB) 37.787 dan Kota Ambon 5.980. Sementara itu, korban meninggal dunia berjumlah 37 jiwa. 

Baca Lainnya : KLHK Kucurkan Rp105 Miliar dalam Pemadaman Karhutla Sampai Oktober 2019

Sementara itu, jumlah kerusakan rumah mencapai 6.344 unit dengan tingkat kerusakan berbeda. Wilayah Kabupaten Malteng, rumah rusak berat (RB) 724 unit, SBB 298 dan Ambon 251. Rumah rusak sedang (RS) di wilayah Kabupaten Malteng mencapai 1.104 unit, SBB 469 dan Ambon 253, sedangkan rusak ringan (RR) di wilayah Malteng 2.238, Ambon 654 dan SBB 353.

Pos Komando (Posko) Penanganan Darurat Bencana Gempa di setiap wilayah terdampak masih melakukan upaya penanganan darurat di lapangan. Beberapa tantangan masih dihadapi oleh personel yang bertugas di masing-masing kabupaten/kota. Sebaran titik penyintas tidak terfokus pada kelompok-kelompok besar sehingga menyulitkan tenaga personel kesehatan dalam memberikan pelayanan medis.

" Di sisi lain, kebutuhan personel kesehatan masih sangat dibutuhkan, seperti dokter umum, bidan dan perawat, apoteker dan tenaga psikososial," tambahnya. 

Ia menambahkan, penanganan darurat di sektor kesehatan tidak hanya memberikan pelayanan medis tetapi juga memastikan gizi terpenuhi pada kelompok rentan, kesehatan reproduksi, distribusi obat dan pencegahan serta pengendalian penyakit. Di sisi lain, penangana juga dilakukan di sektor lintas seperti pendidikan, penanganan dan perlindungan penyintas, ekonomi, sarana dan prasarana serta logistik.  

Baca Lainnya : Perkebunan Sawit Dominasi Karhutla Mencapai 328.724 Hektare, KLHK Rinci Pemadaman Habiskan Rp105 Miliar

Sehubungan dengan penanganan darurat yang berakhir pada 9 Oktober nanti, BNPB masih terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah setempat dan memastikan pelayanan kepada warga terdampak dilakukan dengan baik.

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: