Cegah Karhutla, Solusi Ekonomi Produktif Ini Bisa Diterapkan di Lahan Gambut

TrubusNews
Binsar Marulitua
03 Okt 2019   07:00 WIB

Komentar
Cegah Karhutla, Solusi Ekonomi Produktif Ini Bisa Diterapkan di Lahan Gambut

Program revitalisasi ekonomi (R3) berupa pemanfaatan lahan gambut bekas terbakar, untuk menjadi sawah, yang dilakukan oleh masyarakat Desa Talio Hulu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. (Foto : Dok BRG)

Trubus.id -- Badan Restorasi Gambut (BRG) mengemukakan, upaya ekonomi produktif bisa menjadi alternatif untuk menciptakan penghidupan masyarakat yang ramah terhadap ekosistem gambut. Hal tersebut bisa mencegah masyarakat membuka lahan dengan membakar sebagai pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Deputi IV Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut (BRG) Haris Gunawan menyampaikan, solusi ekonomi produktif adalah menanam sagu, budidaya kelapa, kopi liberika, pinang, padi dan pemanfaatan produk kerajinan tanaman purun. Selain itu kerbau rawa merupakan komoditas adaptif, sedangkan gambut dalam hingga sangat dalam dapat dimanfaatkan untuk jasa ekosistem seperti serapan karbon dan air. 

"Sagu bisa menjadi komoditas unggulan khususnya di lahan gambut basah," jelas Haris dalam konferensi pers pada Rabu (2/10) di Graha BNPB, Jakarta.

Baca Lainnya : Restorasi Gambut Papua Garap Pemberdayaan Ekonomi Melalui Tanam Sagu

Haris menjelaskan sagu memiliki keistimewaan dibandingkan dengan tanaman sawit yang justru menghilangkan cadangan air. Produksi diversifikasi sagu dapat digunakan untuk bahan pangan, gula etanol. Di samping itu, sekali tanam, sagu tumbuh berkembang meskipun ditinggal asalkan keseimbangan air terjaga. 

Ia mencatat produksi sagu nasional Indonesia tahun 2014 hingga 585.093 ton, sedangkan potensi produk sagu seluruh Indonesia sebesar 5,5 juta ha dikalikan rata-rata produksi 25 ton per hektar yang ekuivalen dengan 165 juta ton.

"Masyarakat percontohan yang menanam sagu dapat ditemui di Desa Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau dimana sagu sebagai semi budidaya. Luas lahan sagu di kabupaten ini mencapai 63.000 hektar, sedangkan luas lahan sagu di Provinsi Riau seluas 84.000 hektar," jelasnya  

Haris juga mencontohkan solusi ekonomi produktif lainnya misalnya dnegan pengembangan produk kerajinan tanaman purun. Tanaman ini banyak ditemui di wilayah Kalimantan. Tanaman ini bisa dijadikan sebagai produk makanan yang diambil dari akar purun. 

Selain itu, dilihat dari kesatuan hidrologi gambut (HKG) dapat diidentifikasi beberapa usaha ekonomi produktif yang dapat dikembangkan.

Baca Lainnya : BRG Kooperatif Hadapi Dugaan Penyelewengan Infrastruktur Pembasahan Gambut

Misalnya pada dataran banjir atau alluvial, berbagai jenis budidaya ikan lokal seperti sepat, betok, gabus, bagung dan tapa dapat dilakukan dengan potensi 19 – 165 ton melalui budidaya.

"Ternak itik dapat terintegrasi dengan padi rawa dan sungai gambut dengan aplikasi teknologi probiotik yang menurunkan kadar kolestrol, mengurangi bau kendang dan meningkatkan bobot itik,"tambahnya. 

Pada gambut dangkal, budidaya kelapa, kopi liberika, pinang, padi, kerbau rawa merupakan komoditas adaptif, sedangkan gambut dalam hingga sangat dalam dapat dimanfaatkan untuk jasa ekosistem seperti serapan karbon dan air. 

Tetapi, upaya solusi ekonomi produktif masyarakat ini perlu didukung industri untuk mengakomodasi hasil komoditas dan mendorong masyarakat untuk memulai produksi yang ramah ekosistem gambut. Tahun ini luas kebakaran hutan dan lahan mencapai 328.724 hektar.
 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: