Menristekdikti Berharap KST Padjadjaran Menjadi Wadah Inovator UNPAD

TrubusNews
Thomas Aquinus
27 Sep 2019   18:00 WIB

Komentar
Menristekdikti Berharap KST Padjadjaran Menjadi Wadah Inovator  UNPAD

Gedung dan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Padjadjaran. (Foto : Dok Kemenristekdikti)

Trubus.id -- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir berharap Gedung dan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Padjadjaran diharapkan dapat mewadahi para innovators UNPAD dan menjadi fasilitas penting bagi mereka untuk menghasilkan produk  inovasi terbaik bagi masyarakat Indonesia dan dunia.

Menurutnya, KST Padjadjaran dapat maju dan menjadi pionir KST ‘mature’ yang ada di Indonesia. 

“Kalau ini menjadi KST UNPAD ini menjadi ‘mature’ (dewasa) , maka ke depan akan menghasilkan ‘revenue’ untuk Universitas Padjadjaran,” ujar Nasir saat peresmian Gedung dan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Padjadjaran.

Baca Lainnya : Padamkan Karhutla, BNPB:Teknologi Cuaca Lebih Berdampak Signifkan Ketimbang Water Bombing

Dalam siaran persnya, Nasir menambahkan, untuk dapat maju ekosistemnya maka KST harus dibangun dengan baik. Salah satu ekosistem inovasi yang perlu dibangun adalah jaringan (networking) yang dihasilkan oleh inventor dan inovator. Inventor dan inovator adalah para pelaku inovasi yang memiliki multi talenta skill dalam proses produksi produk produk inovasi.

“Tidak ada artinya suatu Kawasan Sains dan Teknologi (KST) kalau tidak ada inventor dan inovator,” ujarnya.

Tahapan selanjutnya dari pembangunan KST adalah hilirisasi dan komersialisasi hasil riset. Menurut Nasir, inovasi dapat dikomersialkan jika ada tempat inkubasi. Dengan demikian, bisnis proses produk-produk inovasi dapat berjalan lancar. Kolaborasi antara Akademisi (termasuk Peneliti), Pebisnis, Pemerintah, Komunitas dan Media (Penta Helix ABGCM.(Academician Business Government Community Media concept) pun penting dilakukan.

Menteri Nasir juga menambahkan Indikator KST yang sukses yaitu wadah inkubasi untuk menggulirkan inovasi-inovasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Para inkubator bisa menghasilkan inovasi atau tidak, makin banyak atau tidak tenant yang memanfaatkan KST untuk menghasilkan Inovasi menentukan sukses atau tidaknya sebuah KST” ungkap Nasir.

Baca Lainnya : Teknologi Modifikasi Cuaca, Bukan Membuat Hujan? Ini Penjelasan BPPT

Berikutnya, setelah bisnis memiliki nilai tambah bagi KST, perlu dibangun “University Holding Insitution/Company”.

“Mengholdingkan inovasi-inovasi, mengholdingkan tenant-tenant tersebut menjadi ‘revenue generating components’, bagi suatu universitas. Apalagi Universitas Padjadjaran sudah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH). Ini menjadi sangat penting,” ujar Nasir.

Nasir berharap, KST tidak hanya menjual produk inovasi. KST harus dapat memfasilitasi proses riset/invensi menjadi inovasi. Oleh karena itu, mahasiswa/i, terutama dari program doktoral perlu diikutsertakan. Laboratorium pun harus diarahkan untuk menghasilkan publikasi dan inovasi.

Nasir juga mengapresiasi lompatan inovasi yang dilakukan Universitas Padjadjaran dalam beberapa tahun terakhir. Gedung KST Padjadjaran diharapkan dapat menjadi stimulus untuk menjadi KST yang bisa menghasilkan manfaat yang lebih baik lagi bagi Unpad.

“Saya melihat tadi produk produk inovasi-inovasinya. Saya cukup bangga ternyata lompatan yang dilakukan Universitas Padjadjaran. Luar biasa dalam pencapaian inovasinya,” ujarnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: