Pasar Ekspor Terbuka Lebar, Kementan Rangsang Pengembangan Talas Asal Banten

TrubusNews
Astri Sofyanti
27 Sep 2019   10:30 WIB

Komentar
Pasar Ekspor Terbuka Lebar, Kementan Rangsang Pengembangan Talas Asal Banten

Talas (Foto : Pixabay/pisauikan)

Trubus.id -- Talas merupakan salah satu komoditas pangan alternatif yang mulai populer dikembangkan di Indonesia karena memiliki nilai dan prospek ekonomi yang cukup bagus, khusunya sebagai bahan pangan dan komoditas ekspor ke Negara Jepang. Pangsa pasar talas di Jepang masih terbuka lebar karena semakin menyempitnya lahan pertanian di Jepang. Hal tersebut diungkapkan Kepala Subdirektorat Ubikayu dan Aneka Umbi Lainnya, Cornelia.

Berbagai jenis olahan talas bahkan tak hanya disukai masyarakat Indonesia saja tapi juga dunia. Melihat potensinya yang begitu besar, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan budidaya talas (colocasia esculentum) sebagai bahan baku ekspor. Bahkan menurut Kementan, pasar ekspor talas masih terbuka lebar. Hal ini menjadi alasan utama pemerintah bersemangat kembangkan budidaya talas, salah satunya ‘Si Beneng’ talas asal Banten.

 “Dari luas lahanya itu, Jepang hanya bisa memenuhi 250 ribu ton per tahun, atau 65,7 persen dari total kebutuhan per tahun sebesar 380 ribu ton. Ini sebenarnya peluang kita untuk mengembangkan talas yang beorientasi ekspor. Kita dorong terus petani agar mulai meningkatkan nilai tambah talas,” kata Cornelia di Jakarta, Jumat (27/9/19).

Jenis umbi-umbian ini memiliki sebutan lain di setiap daerah, diantaranya Empeu (Aceh), Bete (Manado dan Ternate), Paco (Makassar) dan Kaladi (Ambon). Berbeda dengan talas pada umumnya, Talas Beneng asal Pandeglang Banten ini memiliki ukuran yang lebih jumbo dari talas biasa, dengan tinggi tanaman yang dapat mencapai lebih dari 2 meter. Tanaman dengan nama latin Xantoshoma undipes K. Koch ini baru mulai dikenal banyak orang sejak tahun 2008.

Satibi, selaku Ketua Kelompok Tani Sido Muncul 3 yang merupakan salah satu pembudidaya ‘Si Beneng’ menyatakan menanam umbi talas ini tidaklah rumit dan lebih menguntungkan. Ia biasa nanam Si Beneng ini di bawah tanaman lain dan di lereng bukit dan petani biasanya juga setelah nanam, ya ditinggal saja untuk urus tanaman yang lain karena Si Beneng ini juga tidak terpengaruh curah hujan yang sudah jarang seperti sekarang ini.

“Perbedaan Si Beneng dengan talas lainnya adalah umbi batang yang dipanen berukuran panjang dan besar serta berada diatas permukaan tanah, sedangkan pada talas biasa, umbi batang yang dipanen adalah umbi yang terpendam di dalam tanah,” paparnya.

Dudi Supriyadi selaku Penyuluh di Kabupaten Pandeglang Banten menjelaskan panjang umbi Si Beneng yang siap dipanen bisa mencapai 1,2 sampai 1,5 meter dan bobotnya sekitar 35 hingga 45 kg jika dipanen saat berumur 2 tahun. Namun biasanya petani di Banten memanen saat umur 6 hingga 8 bulan. Setelah umbi dipanen biasanya kelompok wanita tani (KWT) dan UMKM sekitar yang akan mengolah umbi tersebut untuk meningkatkan nilai tambah Si Beneng.

“Si Beneng ini banyak dibudidayakan di Kecamatan Karang tanjung, Pandeglang, Majasari, Kadu Hejo, Mandalawangi, Saketi, Menes, Pulosari, Jiput, Carita, Cisata, dan Cadasari Kabupaten Pandeglang Banten. Hingga saat ini budidaya Si Beneng masih terus dimaksimalkan karena melihat potensi dan permintaan pasar,” jelas Dudi yang juga dikenal sebagai penggiat Talas Beneng.

Menurut pria yang dikenal sebagai penggiat Talas Beneng ini, Si Beneng umumnya dipasarkan ke masyarakat dalam bentuk segar serta olahan berupa keripik talas. Sementara untuk tepung talas beneng akan diolah menjadi donat talas, mie talas, ice cream talas, brownies talas dan aneka kue kering.

Hingga saat ini, lanjut Dudi, produksi Si Beneng per bulan di Kabupaten Pandeglang dapat mencapai 28 ton per bulan dan dijual dalam bentuk tepung ke area Jabodetabek sekitar 3 sampai 4 ton per bulan. Sementara untuk bentuk segar di pasarkan ke daerah Malang untuk di ekspor ke Belanda dengan volume 16 sampai 20 ton per bulannya.

“Potensi Talas Beneng untuk dikembangkan masih sangatlah besar, terutama untuk aneka pangan lokal yang saat ini sedang banyak berkembang dan menggunakan talas sebagai bahan bakunya, karena talas jenis ini mengandung protein yang lebih tinggi dan memiliki warna kuning yang menarik sehingga menjadi ciri tersendiri yang tidak dimiliki talas lain,” terangnya.

Lebih lanjut Dudi menekankan Si Beneng ini merupakan sebagai salah satu pangan alternatif potensial yang kebutuhan domestiknya mencapai 3 sampai 10 ton per bulan untuk produk tepung talas beneng dan 30 ton per bulan dalam bentuk umbi segar untuk memenuhi permintaan ekspor ke Belanda melalui pengerajin di Malang. Karena itu, potensi peningkatan produksi sangat dimungkinkan karena permintaan pasar belum dapat dipenuhi secara maksimal.

“Jadi saat ini petani memerlukan dukungan pemerintah melalui bantuan sarana produksi pertanian untuk meningkatkan produksi Si Beneng,” tutupnya.

  2


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: