Kepala BNPB Ungkap Penanggulangan Karhutla Harus Permanen

TrubusNews
Astri Sofyanti
26 Sep 2019   17:38 WIB

Komentar
Kepala BNPB Ungkap Penanggulangan Karhutla Harus Permanen

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus dilakukan secara permanen.

“Sampai saat ini masih ada sejumlah titik api. Memadamkan karhutla membutuhkan kerjasama berbagai pihak, butuh sinergi pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Solusi untuk memadamkan karhutla harus permanen,” kata Doni dalam diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 dengan tajuk "Antisipasi Karhutla Berlanjut" di Graha BNPB, Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (26/9).

Meski begitu Doni menekankan bahwa upaya-upaya yang dilakukan untuk memadamkan api mengalami kemajuan yang sangat signifikan.

Kepala BNPB menyebutkan hingga saat ini lahan seluas 328.724 hektare hangus terbakar. Dari total tersebut sekitar 27 persennya atau 86.563 hektare adalah lahan gambut.

Baca Lainnya : Kepala BNPB Ungkap Penanggulangan Karhutla Harus Permanen

Untuk Sumatera Selatan dikatakan Doni hingga saat ini sudah tercatat 60.123 hektare menjadi korban karhutla. Tapi dia optimistis jumlah titik api dan kebakaran akan berkurang seiring dengan mulai turun hujan di beberapa daerah rawan Karhutla.

“Hujannya sudah turun di Jambi dan menyebar luas hingga ke Sumsel ini. Berdasarkan data BNPB, hujan terjadi di 10 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, 11 kabupaten di Riau, 6 kabupaten di Kalimantan Selatan, 1 kota di Kalimantan Tengah, 7 kabupaten di Jambi, 11 kabupaten di Kalimantan Barat," paparnya.

Berkat modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan yang dilakukan oleh BPPT, BMKG dan dibantu pesawat sebanyak empat unit oleh Mabes TNI, dua unit di Sumatera yakni 1 pesaat herkules dan 1 Casa dan di Kalimantan 1 unit CN 295 dan 1 Casa.

Baca Lainnya : Tim Penanganan Karhutla Masih Diberangkatkan untuk Pendinginan Gunung Slamet

Kemarin siang hingga sore, Kota Palembang dan sebagian kota-kota lainnya di Sumatera Selatan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Tidak hanya hujan akan tetapi pada daerah tertentu, disertai dengan angin kencang dan petir. Sebelumnya beberapa daerah yang kering tanpa hujan lebih dari 60 hari, di antaranya di Jambi dan sekitarnya. Akibat karhutla di Jambi asapnya menyebar hingga masuk ke wilayah Riau. Menurutnya, asap berkumpul menyeberang ke Selat Malaka dan mungkin ke negara tetangga.

BNPB juga memadamkan api karhutla dengan melakukan pengboman air menggunakan 49 helikopter. Untuk di Sumsel adalah jumlah unit terbanyak yakni 9 helikopter, yakni 7 untuk water bombing dan 2 untuk patroli. "Upaya TMC ini belum berakhir, kita masih berjuang hingga pertengahan Oktober," bebernya.

Pemadaman karhutla di wilayah Indonesia yang berlahan gambut memang berbeda dengan karhutla di negara lain. Menurut Doni, ada lahan gambut yang memiliki bara api hingga 7 meter. Bahkan ada yang kedalaman yang masih mengandung bara hingga 20 meter.

“Kondisi gambut kita kering, daerah hanya mengandalkan pemerintah, padahal dari awal Februari kita sudah melakukan sosialisasi persoalan kebakaran tidak hanya bisa diselesaikan oleh satu lembaga, tidak mungkin hanya pemerintah pusat, butuh kerjasama semua pihak. Dalam berbagai kesempatan saya katakan bagaimana caranya kita agar menjaga agar bara api tidak bertambah, pejabat daerah juga telah diingatkan untuk membuat kanal di lahan gambut sebelum musim hujan, kalau nanti terlambat membangunnya ketika musim hujan tidak mudah lagi membangun kanal, kalau dibangun pun nanti sifatnya hanya semi permanen,” pungkasnya. [NN]

 

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: