Penyerapan Garam Dinilai Belum Optimal, Kemenko Perekomonian: Industri Hanya Serap 30 Persen

TrubusNews
Astri Sofyanti
24 Sep 2019   20:28 WIB

Komentar
Penyerapan Garam Dinilai Belum Optimal, Kemenko Perekomonian: Industri Hanya Serap 30 Persen

Food Security Forum “Tantangan Industri Garam Nasional, Pemenuhan Kebutuhan Industri Pangan dan Konsumsi Dalam Negeri” di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Selasa (24/9/19). (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui Plt Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kemenko Perekonomian Toni Nainggolan menyebut bahwa penyerapan garam dalam negeri belum dilakukan secara optimal.

Sebagai informasi, kebutuhan garam dalam negeri sebagain besar digunakan untuk sektor industri. Ketua Ketua Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Saidah Sakwan menyebut, industri garam nasional mayoritas pengguna garam adalah industri kimia. Berdasarkan data, industri kimia menggunakan 47 persen dari seluruh garam yang ada, rumah tangga hanya 18 persen, kemudian pakan ternak menggunakan 13 persen, dan industri makanan dan minuman (mamin) 12 persen.

“Hanya sekitar 30 persen pasokan garam lokal yang bisa diserap oleh industri karena kualitasnya yang sudah memenuhi standar industri K1. Artinya untuk industri 30 persen maka baru 900 ribu ton saja yang bisa untuk memenuhi kebutuhan industri,” kata Toni dalam Food Security Forum “Tantangan Industri Garam Nasional, Pemenuhan Kebutuhan Industri Pangan dan Konsumsi Dalam Negeri” di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Selasa (24/9/19).

Sementara Direktur Industri Kimia Hilir Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Fredy Juwono mengatakan, yang dipakai oleh industri atau dalam hal ini industri makanan dan minuman harus yang kualitas K1.

“Untuk industri makanan dan minuman, mereka tidak bisa menyerap garam dengan kandungan magnesium yang terlalu tinggi. Industri Mamin hanya bisa menyerap garam dengan kadar natrium klorida (NaCl) minimal 94 persen,” ucapnya.

Dirinya mengugkapkan, diperlukan upaya yang keras untuk mendorong agar penyerapan garam oleh petani lokal lebih tinggi. Jika itu dilakukan, sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan adalah kualitas. Ini dilakukan agar industri mau menyerap lebih banyak lagi garam dari petani dalam negeri.

Oleh karena itu, Fredy menyebut banyak industri pengolahan garam, seperti salah satunya PT Garam mulai memperbaiki tata kelola air, sistem pencucian hingga pengeringannya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: