Bedanya Petani di Indonesia dengan Negara Maju? Ini Dia Penjelasannya

TrubusNews
Hernawan Nugroho
24 Sep 2019   14:00 WIB

Komentar
Bedanya Petani di Indonesia dengan Negara Maju? Ini Dia Penjelasannya

Petani kecil mendominasi pelaku pertanian di negeri ini (Foto : gettyimages)

Trubus.id -- Indonesia sejak dulu terkenal sebagai negara agraris. Tanggal 24 September pun diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Namun, mengapa nasib baik belum berpihak kepada para petani? Ternyata, menurut Jurnal Ilmu Sosial Universitas Pangeran Diponegoro, Semarang, dalam pemaknaannya, petani terbagi menjadi 2 jenis, menurut bahasa Inggris, yaitu “peasant”dan “farmer”. Secara mudahnya, “peasant” adalah gambaran dari petani kecil yang subsisten atau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja, sedangkan “farmer” adalah petani besar modern yang berusahatani dengan menerapkan teknologi modern serta memiliki jiwa bisnis yang sesuai dengan tuntutan agribisnis. 

Upaya mengubah petani dari karakter peasant menjadi farmer itulah hakekat dari pembangunan atau modernisasi. Menurut Wolf, seorang antroplog, peasant adalah suatu kelompok masyarakat dengan kegiatan utama bertani, sebagai bentuk transisi antara masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Tampak bahwa ia menggunakan pendekatan evolutif dalam pengkategorian ini. Peasant secara konkrit adalah sebagai penyewa (tenants), penyakap (sharecroppers), dan buruh tani. Meskipun berada pada level bawah, sesungguhnya mereka lah yang menggerakkan pertanian. 

Baca Lainnya : Hari Tani Nasional, Kementan: Petani Itu Pahlawan Pangan

Pada pengetahuan awal, peasant hanyalah orang-orang yang berusaha dalam pembudidayaan tanaman dan memelihara hewan yang hidup di pedesaan. Yang melekat pada peasant adalah sikap kerjasamanya satu sama lain, usahatani kecil, dan menggunakan tenaga keluarga sendiri. Saat inilah, petani yang berkarakter peasant yang dominan tetap eksis.

Sesungguhnya sampai saat ini, upaya mempelajari “apa yang dimaksud dengan petani”, belumlah selesai. Berbagai perdebatan timbul karena perbedaan dalam metodologi dalam mempelajarinya. Misalnya perdebatan antara James Scott dan Samuel Popkin. Rasionalitas petani menurut James Scott adalah moral ekonomi petani yang hidup di garis batas subsistensi, yaitu mendahulukan selamat dan enggan mengambil resiko. Bagi Scott ini merupakan perilaku yang rasional. Namun Samuel Popkin melihat bahwa fenomena tersebut jangan diartikan sempit. Itu hanya terjadi dalam kondisi mendesak saja, sehingga mereka akan lebih memprioritaskan diri dan keluarga mereka. Pada hakekatnya petani terbuka terhadap pasar dan siap mengambil resiko, sepanjang kesempatan tersebut ada.

Baca Lainnya : Kementan Sukses Kenalkan Produk Unggulan Petani ke Amerika Serikat

Perbedaan antara petani peasant dengan farmer terletak pada sifat usahatani yang dilakukan. Peasant berusahatani dengan bantuan keluarga dan hasilnya juga untuk keluarga. Sedangkan petani farmer berusahatani dengan bantuan tenaga buruh tani dan bertujuan mencari keuntungan. Produksi tidak hanya untuk keluarga, justru sebagian besar dijual ke pasar guna mendapatkan keuntungan. Singkatnya, dikatakan oleh Wolf bahwa, petani peasant berusahatani keluarga, sedangkan petani farmer berusahatani seperti prinsip ekonomi perusahaan (komersil). 

Sampai di sini, maka kita tidak dapat membandingkan antara "petani" di Indonesia dengan di negara maju. Di sini peasant-lah petani itu, sedangkan di negara maju dominan farmer dengan kepemilikan lahan berhektar-hektar dan pemanfaatan teknologi modern dalam produksi pertanian. Transformasi petani kecil menjadi petani besar merupakan "pekerjaan rumah" pemerintah yang sampai saat ini masih terus diupayakan realisasinya. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: