Kepala BNPB Kunjungi Jambi Pantau Langsung Operasi TMC

TrubusNews
Astri Sofyanti
23 Sep 2019   21:33 WIB

Komentar
Kepala BNPB Kunjungi Jambi Pantau Langsung Operasi TMC

Doni ketika menjalankan salat berjamaah di Masjid seribu tiang, atau Masjid Agung Al Falah, Kota Jambi, Provinsi Jambi, Senin (20/9/19). (Foto : Dok. BNPB)

Trubus.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) siang tadi bertolak ke Jambi untuk memantau secara langsung kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Jambi, Doni Monardo melakukan pendekatan humanis dan mengingatkan masyarakat untuk menjaga keseimbangan hidup. Diantaranya menjaga kehidupan antara manusia dan Tuhan, sesama manusia, serta manusia dan alam. Hal tersebut diungkapkan Doni ketika menjalankan salat berjamaah di Masjid seribu tiang, atau Masjid Agung Al Falah, Kota Jambi, Provinsi Jambi, Senin (20/9/19).

Kepala BNPB mengatakan, bencana terbagi dua, bencana alam dan bencana non alam. Bencana alam seperti gempabumi di Jambi relatif sedikit dan belum ditemukan adanya potongan sesar gempa di Jambi. Namun, bencana yang terjadi adalah bencana non alam seperti Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang diakibatkan ulah manusia dan akibat musim kemarau panjang selama dua bulan lebih di Jambi. Salah satunya permukaan gambut menjadi kering, sehingga mudah terbakar.

Berbeda dari tahun sebelumnya, yang terjadi juga kebakaran. "Relatif mudah dipadamkan, karena lahan gambut masih relatif basah. Tahun ini boleh dibilang hampir sama dengan tahun 2015 kebakarannya. Karena lahan gambut relatif kering," kata Doni melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (23/9/19).

Tercatat 2,6 juta hektar terbakar di tahun 2015. Di tahun 2019 ini sudah 328 ribu hektar lahan gambut terbakar. Sifat lahan gambut habitatnya basah dan tidak boleh kering, karena merupakan fosil batu bara muda yang mudah terbakar.

"Presiden'menugaskan saya untuk memprioritaskan daerah-daerah yang belum turun hujan. Kita bekerja dengan baik, dan berdoa untuk memadamkan api bersama," tambahnya.

Kepala BNPB menganjurkan bertani, beladang, berkebun tidak lagi membakar. Aturan yang memperbolehkan membuka lahan dengan cara membakar harus perlu izin.

"Hal yang perlu diperhatikan adalah membuka lahan di areal gambut, yang berbahaya jika kering, api langsung menjalar. Hal ini yang harus diperhatikan oleh masyarakat agar api tidak membesar," bebernya.
Masalah pencegahan penanggulangan bencana harus di sekolah. "Hal ini harus dipupuk dari kecil, bekerjasama dengan kementerian pendidikan nasional untuk menanamkan pendidikan edukasi bencana sejak dini," ucap Kepala BNPB.

Masalah bencana tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi saja. Butuh bantuan dari berbagai kalangan, bersinergi dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Tidak perlu saling menyalahkan, mari kita bahu-membahu memadamkan api. Kedepannya pencegahan harus dikedepankan, dan pemerintah daerah harus melibatkan masyarakat sebagai kunci pencegahan Karhutla.

Kepala BNPB di Jambi pukul 17.00 WIB, langsung mendapatkan laporan via telepon dari tim yang melakukan operasi Teknik Modifikasi Cuaca (TMC). Wilayah Jambi sudah turun hujan, khususnya daerah Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Kibou dan Kawasan Batangbhari.

Hal ini juga diamini oleh Gubernur Jambi, Fachrori Umar. Di sebagian Provinsi Jambi pukul 14.30 WIB sudah turun hujan.

"Mari kita Sholat Istisqo bersama, untuk minta pengampunan dan petunjuk dan pertolongan Allah SWT. Serta menurunkan hujan untuk mengatasi bencana asap di bumi Jambi kita," ajaknya.

Sutan Adil Hendra anggota DPR Komisi 10 Dapil Provinsi Jambi. Sutan mengatakan sebagai perwakilan masyarakat Jambi, mengucapkan terimakasih kepada pemerintah pusat yang sigap dalam mengatasi bencana asap di Jambi. "Terima kasih kepada BNPB, yang sudah membantu Jambi dalam pemadaman, pengiriman personil, dan melakukan hujan buatan," jelasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: