Kabut Asap Sebabkan Nelayan Tapteng Takut Melaut

TrubusNews
Thomas Aquinus
23 Sep 2019   16:30 WIB

Komentar
Kabut Asap Sebabkan Nelayan Tapteng Takut Melaut

Ilustrasi kabut asap (Foto : Trubus.id/Kontributor RP)

Trubus.id -- Kabut asap kiriman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari Provinsi Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung, menyebabkan nelayan di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut) takut melaut.

Seorang nelayan bernama Ucok Pasaribu mengatakan, mereka sudah sepekan tidak melaut karena kabut asap. Sebagian besar nelayan di Tapteng  merupakan nelayan tradisional yang tidak memiliki alat navigasi memadai.

"Sudah sepekan lami takut melaut karena kabut asap yang tebal, kami takut nyasar," katanya, Senin (23/9).

Ucok menyebut, kabut asap di wilayah Tapteng makin pekat dan membatasi jarak pandang mereka. Selaku nelayan, mereka hanya mengandalkan jarak pandang untuk melaut, karena tidak memiliki alat navigasi modern.

Baca Lainnya : Asap Karhutla Masih Pekat, Jarak Pandang di Minangkabau Hanya Dua Kilometer

"Alat kami tradisional, dan tidak ada navigasi di perahu," ujarnya.

Ucok mengungkapkan, kalau dipaksa melalut, mereka bisa saja hingga ke tengah. Mereka khawatir dengan jarak pandang yang semakin terbatas, dan takut tidak bisa pulang ke darat.

"Bisa nyasar, atau bahkan bisa sampai ke Samudera Hindia," ungkapnya. 

Ketakutan mereka cukup berasalan. Pada tahun-tahun sebelumnya, dengan kondisi udara yang sama, banyak nelayan di Tapteng tersesat. Belum lagi dengan kondisi cuaca saat ini yang mulai memasuki musim penghujan.

"Kadang hujan datang disertai angin kencang, sehingga gelombang laut cukup tinggi. Sebagain besar nelayan  di sini hanya menggunakan perahu-perahu kecil," sebutnya.

Baca Lainnya : Sudah 52 Korporasi Pemegang izin Konsesi Disegel Terkait Karhutla, Luas Lahan Capai 8.931 Hektar

Akibat tidak melaut lebih dari sepekan ini penghasilan nelayan menjadi berkurang. Mereka hanya berani menangkap ikan di pinggir laut. Mereka menangkap ikan hanya di pinggir pantai, dan hasilnya jauh dari prediksi.

"Daripada kami nekat ke tengah laut, nyasar dan tenggelam. Risikonya lebih besar," tandasnya. [RP/NN]

 

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: