4 Terobosan Kementan Guna Lakukan Percepatan Investasi di Sektor Pertanian

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
18 Sep 2019   18:00

Komentar
4 Terobosan Kementan Guna Lakukan Percepatan Investasi di Sektor Pertanian

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil dalam diskusi Percepatan Investasi di Bidang Pertanian di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (18/9/19). (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya melakukan percepatan investasi yang meliputi lima sub sektor yang meliputi peternakan, hortikultura, perkebunan, sarana dan prasarana serta tanaman pangan. Upaya percepatan investasi ini dilakukan Kementan untuk mendorong ekspor.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementan Ali Jamil mengatakan ada empat usaha agribisnis yang berpotensi mendorong peningkatan ekspor diantaranya usaha fumigasi, peti kemas kayu, rumah walet, dan industri pemrosesan sarang walet.

Sesuai arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, percepatan investasi ini merupakan momentum penting guna meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional.

“Peluang ini harus kita sambut secara proaktif, untuk itu kita disini bersama merumuskan apa yang dibutuhkan para calon investor guna penerapan kebijakan kedepan, " kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil dalam diskusi Percepatan Investasi di Bidang Pertanian di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (18/9/19).

Guna mensukseskan percepatan investasi di usaha pertanian, Badan Karantina Pertanain, Kementan menggelar diskusi yang dihadiri oleh 172 calon investor/pengusaha dengan berbagai jenis usaha yang meliputi fumigasi, peti kemas kayu, rumah walet dan industri pemrosesan sarang walet dari seluruh Indonesia.

“Kami terus berupaya untuk terus mempersingkat dan mempermudah proses perizinan investasi sangat diperlukan sekaligus juga dengan mempromosikan potensi dan peluang produk pertanian yang ada menjadi agenda yang penting,” tambahnya.

Oleh karena itu, Kepala Barantan, menerapkan empat terobosan untuk mengakselerasi ekspor produk pertanian. Pertama, layanan Prioritas yang diberikan kepada pengguna jasa yang patuh, pemeriksaan fisi didasarkan pada metoda sampling.

"Kedua, yakni In-Line Inspection, di mana eksportir dilatih dan disertifikasi dalam menyiapkan komoditas yang sehat untuk mempermudah dan mempercepat proses karantina ekspor," sebutnya.

Ketiga, yakni protokol Karantina, yakni melakukan komunikasi dan terobosan kebijakan SPS dengan negara mitra, guna menghilangkan hambatan ekspor.
Ke-empat E-Cert (sertifikasi elektronik), yang dipertukaran dengan negara tujuan ekspor sebagai jaminan kepastian keberterimaan produk.

"Oleh karena itu, kami berharap dalam diskusi ini dapat tergambarkan peluang industri agribisnis perkarantinaan sekaligus mencari cara jitu menghadapi situasi ekonomi dunia saat ini yang berada dalam ancaman resesi dunia," bebernya.

Jamil menuturkan kondisi global seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina dapat menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan ekspor. Sementara itu, bagi produk Sarang Burung Walet dan produk turunannya serta industri Peti Kayu Kemas dan Fumigasi sebagai pendukung yang menjadi persyaratan negara tujuan ekspor.

"Berdasarkan data sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST, volume ekspor per sektor selama kurun waktu Januari hingga Agustus 2019 nilai ekonomi sebesar Rp400 triliun," ujarnya lagi.

Adapun rincianya yakni Sub Sektor Tanaman Pangan sebanyak 742,6 ribu ton, Sub Sektor Hortikultura 704,9 ribu ton, Sub Sektor Peternakan terdiri dari hewan hidup 948.405 ekor dan produk hewan sebanyak 20,3 ribu ton, Sub Sektor Perkebunan 186,8 juta ton.

"Sub Sektor diluar pertanian, namun memerlukan sertifkasi karantina sebagai persyaratan negara tujuan yakni Kehutanan 296,029 ton dan Aquatic Plant 206.680 ton," ujarnya.

Jamil pun menyebutkan data ekspor Sarang Burung Walet dan produk turunannya yang merupakan ekspor dengan pertumbuhan yang cukup signifikan di triwulan kedua tahun 2019, yaitu sebesar 788 ton yang tersertifikasi di Barantan pada tahun 2018 total ekspornya mencapai 1.135 ton. Sementara untuk industri pendukung ekspor produk pertanian berupa peti kemas kayu dan fumigasi, ikut menyumbang terhadap daya saing produk pertanian di pasar global.

"Yakni dengan tingkat keberterimaan produk di pertanian Indonesia di negara tujuan. Saat ini negara tujuan ekspor untuk produk pertanian Indonesia lebih dari 120 negara," sebutnya.

Dirinya menekankan dalam diskusi ini perlu untuk mendengar langsung apa yang diinginkan serta diperlukan para pelaku usaha di 4 bidang dimaksud disamping masukan dari para pemangku kepentingan. Selanjutanya, rumusan hasil diskusi paling tidak masing-masing 3 pokok saja, yakni dirumuskan, diputuskan dan kemudian akan ditindaklanjuti dengan usulan kebijakan yang betul-betul bermanfaat bagi semua iklim berinvestasi di bidang pertanian, secara khusus untuk 4 jenis usaha tersebut.

“Pesaing utama kita di dunia untuk industri yang sama adalah Vietnam dan Malaysia, kita harus sigap berbenah untuk dapat memenangkan kompetisi dagang ini,” pungkasnya.

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Cindy Tanaka 18 Sep 2019 - 19:41

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: