Kepala BNPB: Sinergi Semua Pihak, Solusi Atasi Karhutla

TrubusNews
Astri Sofyanti
18 Sep 2019   09:01 WIB

Komentar
Kepala BNPB: Sinergi Semua Pihak, Solusi Atasi Karhutla

Kepala BNPB Doni Monardo pada acara Indonesia Lawyer Club, di Jakarta, Selasa (17/9) malam. (Foto : Dok BNPB)

Trubus.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengungkapkan bahwa butuh sinergi dan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

"Karhutla adalah ancaman permanen, maka solusinya juga harus permanen" kata Doni Monardo pada acara Indonesia Lawyer Club (ILC), di Jakarta, Selasa (17/9) malam.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, Doni menambahkan, salah satunya sinergi Pentahelix, yakni pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan akademisi. Fakta di lapangan, pemerintah daerah yang dapat menjadi ujung tombak dalam pemadaman api sebelum membesar. Selain itu, pola pencegahan lainnya adalah mengetatkan perolehan izin lingkungan, kewenangan yang dimiliki bupati atau kepala daerah. Disamping itu pemimpin daerah juga wajib melakukan pengawasan, memberikan sanksi atau tindakan administratif bagi yang melanggar.

Baca Lainnya : Terus Bertambah, Polri Tetapkan 5 Korporasi dan 218 Tersangka Karhutla

Pihaknya mengakui jika tak semua permasalahan pemadaman diserahkan ke pemerintah pusat.

“Jika Kepala Daerahnya dapat menjadi contoh, elemen dibawahnya pasti juga mengikuti. Contoh kepimpinan yang peduli dengan lingkungannya adalah Gubernur Jawa Tengah. Saat kebakaran hutan di Gunung Merbabu, Gubernur Jawa Tengah mau turun tangan ke lapangan. Hal ini yang menjadi contoh, untuk aparat terkait dan masyarakat mau ikut berperan aktif memadamkan api,” ucapnya lagi.

Diakui Doni salah satu motif dari pembakar hutan adalah Land Clearing, karena lebih murah dan 99% karhutla akibat ulah manusia. Fenomena alam El Nino lemah juga yang menyebabkan kemarau panjang sehingga curah hujan sedikit dan api sulit dipadamkan.

Baca Lainnya : Tinjau Karhutla di Desa Merbau, Jokowi: Pencegahan Itu Lebih Efektif

"Berdasarkan data yang saya kumpulkan semenjak 6 bulan dilantik. Karhutla disebabkan oleh manusia, 80% lahan terbakar berubah menjadi lahan perkebunan" bebernya.

Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki 14,3 juta hektar perkebunan kelapa sawit. Doni juga memberikan solusi kedepannya, tidak hanya kelapa sawit yang dapat menguntungkan, tetapi fakta sejarah mencatat hasil rempah-rempah Indonesia lainnya juga menghasilkan. Sejarah mencatat VOC Belanda, menghasilkan 7,9 Triliun USD. Salah satunya pohon yang dapat menghasilkan uang lebih banyak seperti pohon Nilam dan Masoya, yang bernilai lebih sebagai bahan dasar parfum merk terkenal.

Baca Lainnya : Orangutan Kalteng Terinfeksi ISPA Akibat Asap Karhutla

Pembakar hutan adalah kejahatan yang luar biasa. Tantangan kedepannya adalah mengubah perilaku masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

“Selain itu, penegakkan hukum terhadap pembakar. Adanya kelapa sawit ilegal ditengah hutan lindung yang diutarakan Kordinator Jakalahari. Pemerintah dan DPR harus bekerjasama mendukung untuk menindak tegas mafia yang menanam pohon sawit ilegal tersebut. Polri mencatat sudah ada 196 kasus, dengan 218 tersangka perorangan, dan 5 korporasi tersangka di tahun 2019,” pungkasnya. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: