Sambangi Danau Toba, Menteri Susi: Usaha Budidaya Harus Perhatikan Daya Dukung Lingkungan

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
17 Sep 2019   15:00

Komentar
Sambangi Danau Toba, Menteri Susi: Usaha Budidaya Harus Perhatikan Daya Dukung Lingkungan

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dalam balutan busana adat Batak, ulos saat mengunjungi masyarakat di Pantai Pasir Putih, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Minggu (15/9/2019). (Foto : KKP)

Trubus.id -- Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti beserta rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyapa masyarakat di Pantai Pasir Putih, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Minggu (15/9) lalu. Dalam Kunjungan ke Sumatera Utara tersebut, rombingan disambut oleh Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi; Bupati Toba Samosir, Darwin Siagian,; Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumban Tobing; dan masyarakat sekitar. 

Mengawali sambutannya, Menteri Susi mengapresiasi masyarakat Toba Samosir dan suku Batak pada umumnya yang dinilai memiliki semangat kerja yang tinggi. Menurutnya, hal ini terlihat dari ladang, sawah, dan lahan lainnya yang digarap dan ditanami dengan baik. 

“Orang Batak rajin-rajin luar biasa. Ayo lebih kreatif lagi. Tanamlah ikan di sawah (mina padi) juga, karena ada airnya. Kemudian tanamlah di galangan-galangan itu palawija, kacang panjang, dan lain-lain. Saya yakin kalau semua ini ada, vitaminnya sudah cukup dari sayuran dari buahnya. Kemudian karbohidratnya berasal dari singkong dan jagung. Proteinnya dari ikan 70%, yang 30% dari ayam dan dari telur atau sapi atau lembu,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (17/9).

Baca Lainnya : Menteri Susi Tebar 266.000 Benih Ikan di Danau Toba

Ajakan Menteri Susi agar masyarakat melakukan budidaya mina padi ini bertujuan sebagai komplementer budidaya ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Toba yang dinilai sudah terlalu padat. Untuk itu, perlu dicarikan dukungan lain yang lebih ramah lingkungan. 

“10 tahun yang lalu, 15 tahun yang lalu, kita berenang di Danau Toba masih tenang-tenang saja. Sekarang katanya banyak orang yang mengingatkan, jangan, karena ada gatal-gatal. Dan Saya dengar kematian ikan dari KJA-KJA juga sering sekali terjadi. Betul tidak? Itu adalah tanda-tanda daya dukung Danau Toba sudah tidak kuat dan tidak bagus lagi. Kalau itu tidak diperbaiki, tidak ada langkah-langkah pengaturan dan revitalisasi, maka Danau Toba akan rusak kualitas airnya dan akan menjadi tidak nyaman lagi untuk turis datang,” jelasnya. 

Menurut Menteri Susi, endapan sisa makanan yang tidak habis dimakan ikan di danau akan menjadi hydrogen sulfide. Suatu waktu, timbunan hydrogen sulfide ini bisa meledak dan menjadi upwelling atau racun bagi ikan-ikan yang mengakibatkan kematian massal ikan.

“Alih-alih mau untung dari budidaya, yang ada malah buntung karena ikannya mati semua,” lanjutnya. 

Baca Lainnya : Kalimantan Tengah Masih Rangking Pertama Titik Panas Terbanyak

Untuk itu, menurut Menteri Susi, pemerintah daerah bersama masyarakat sekitar yang sebagian besar menggantungkan hidup dari kegiatan budidaya perlu duduk bersama mencarikan solusi. Salah satunya yaitu dengan pengaturan KJA dengan pengurangan yang berkeadilan. 

“Pengurangan KJA harus berkeadilan, tidak boleh antara masyarakat dan korporasi dibedakan. Jika pengurangan itu akan dilakukan secara persentasi, maka harus sama. Misalnya masyarakat sudah hilang separuh, korporasi pun harus hilang separuh. Kalau tidak nanti menimbulkan kecemburuan dan itu tidak akan berjalan dengan baik,” Menteri Susi mengingatkan. 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: