Cegah ISPA Akibat Kabut Asap, Menteri Kesehatan Anjurkan Gunakan Teknologi Tepat Guna

TrubusNews
Astri Sofyanti
17 Sep 2019   15:30 WIB

Komentar
Cegah ISPA Akibat Kabut Asap, Menteri Kesehatan Anjurkan Gunakan Teknologi Tepat Guna

Kabut Asap dari Karhutla Selimuti Pekanbaru, Riau (Foto : Dok. BNPB)

Trubus.id -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan mengakibatkan banyak masyarakat terpapar kabut asap. Kabut asap dari terjadinya karhutla ini diketahui bisa mengakibatkan sejumlah masalah kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Mengingat banyaknya penderita ISPA akibat karhutla, Kementerian Kesehatan melakukan sejumlah upaya pencegahan dan pengobatan terhadap masyarakat yang terdampak karhutla.

Menteri Kesehatan RI (Menkes) Nila Farid Moeloek, menganjurkan adanya upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.

Penggunaan teknologi tepat guna sempat dimanfaatkan pada 2017 dengan kasus yang sama, Karhutla. Berdasarkan arahan Menteri Kesehatan, Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Krisi Kesehatan, Kemenkes dr. Ahmad Yurianto mengatakan dua tahun lalu Kemenkes pernah kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung membangun save community pada masyarakat salah satunya menciptakan teknologi tepat guna sederhana berupa pemasangan kain dakron yang dibasahi.

Baca Lainnya : Warga Terserang ISPA Akibat Kabut Asap di Kalteng Dapat Pengobatan Gratis

“Setelah diuji coba di beberapa sekolah dan dilakukan pengukuran ISPU di dalam dan di luar kelas, ternyata udara lebih baik di dalam kelas karena terpasang kain dakron,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (17/9/19).

Yuri sapaan akrabnya mengatakan, pengalaman masalah karhutla pada 2015, telah terjadi kematian pada anak. Hal itu sebenarnya disebabkan gastroenteritis dan dehidrasi berat karena kurang tersedianya air bersih.

“Saat itu sebenarnya episode yang diawali kekeringan dan sulit dapat air bersih sehingga yang muncul gastroenteritis. Terlambat melakukan rujukan karena memang warga takut asap di luar sehingga kematian ada. Informasi yang ramai meninggal karena asap padahal bukan,” ujarnya.

Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek menambahkan kalau sudah musim kemarau yang utama adalah air bersih. Pihaknya mengatakan bahwa Poltekkes sempat menciptakan teknologi tepat guna berupa penjernih air dan berhasil menjernihkan air gambut di Kalimantan.

Baca Lainnya : Kabut Asap Makin Pekat, Warga Sumatera Selatan Diimbau Gunakan Masker

“Kalau sudah musim kemarau yang utama itu air. Poltekkes sudah bisa menjernihkan air gambut, kecil alatnya,” beber Nila.

Selain itu, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Batam 4 tahun lalu juga membuat teknologi penjernih air agar bisa langsung minum. Teknologi tersebut dijadikan replika untuk daerah agar bisa mengembangkan sendiri.

Dr. Yuri menambahkan teknologi tepat guna lainnya adalah oksigen konsentrator. Tim Pusat Krisis Kesehatan sempat memantau Puskesmas Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang bermasalah karena kabut asap yang begitu pekat.

“Kita datangi, kita beri oksigen konsentrator kemudian Puskesmasnya kita tutup pakai kain dakron. Tim Puskris mau mengecek lagi ke sana,” tambah Yuri kembali.

Baca Lainnya : Kepala BNPB Ajak Pemerintah dan Masyarakat Hilangkan Kabut Asap di Riau

Lebih lanjut Yuri mengungkapkan, kalau oksigen konsentrator ini sesuatu yang bagus maka Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer dapat meminta Puskesmas untuk menggunakan oksigen konsentrator.

“Ke sini juga, kami mengirim (oksigen konsentrator) ke Riau,” paparnya.

Terkait teknologi tepat guna ini, Menkes Nila mengatakan bisa dijadikan contoh untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan akibat Karhutla.

“Ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Bisa kita gunakan untuk masyarakat. Jangan sampai kita telat lagi dalam pencegahan,” tandas Menkes. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: