Mengoptimalkan Peran Lahan Rawa Sebagai Penyangga Pangan Nasional

TrubusNews
Hernawan Nugroho | Followers 0
13 Sep 2019   15:00

Komentar
Mengoptimalkan Peran Lahan Rawa Sebagai Penyangga Pangan Nasional

Pertanian rawa berpotensi menjadi penyangga produk tanaman pangan nasional (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Tidak seperti di pulau Jawa, sebagian lahan di Kalimantan berbentuk rawa. Komposisi tanah yang cenderung asam dan tergenang air merupakan tantangan tersendiri bagi petani untuk mengolah menjadi subur dan dapat ditanami berbagai tanaman.  
Balal Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada Badan Penelitlan dan Pengembangan Pertanlan, Kementerian Pertanian Republik Indonesla (Balittra) pun terus mendorong petanl blsa mengoptimalkan lahan rawa, sehIngga dapat melakukan tanam dua hIngga tiga kali dalam satu tahun. 

Dikutip dari laman AntaraNews, Prof Dr lr Muhammad Noor, peneliti utama dl Balittra, adalah pakar dl bldang tata alr atau pengelolaan alr di balik pengembangan inovasi tersebut. Menurut M Noor, teknologi pengelolaan alr untuk mengatur debit alr di lahan rawa yang selalu tergenang sangat penting. Dirnana optimalisasi jaringan tata air untuk mengendalikan tinggi muka air dl saluran dan lahan sawah wajib dilakukan agar proses tanarn bisa berhasll hingga panen. 

'Kunclnya adalah perlu infrastruktur pengelolaan air dl lahan rawa yang meliputi tanggul keliling. Kedua, adanya saluran untuk memasukkan dan mengeluarkan air, ketiga, pompa untuk bisa menggerakkan air apabila diperlukan pada saat muslm kemarau dan apablla perlu dlbuang pada muslm hujan," ujarnya. Ia menambahkan, kurangnya infrastruktur jaringan tata air masih terus ditingkatkan dan dikembangkan oleh pemerintah. 

Baca Lainnya : Luar Biasa, Sawah Air Laut Hasilkan Padi 9,3 Ton per Hektar

Permasalahan saat ini adalah alr yang belum blsa dikendalikan sepenuhnya. Kalau muslm hujan daerah rawa kebanjlran. Pada musim kemarau kekeringan, sehingga untuk tanam dua kali mengalaml kendala. Dl muslm hujan mellmpah air tidak bisa dibuang. Muslm kemarau kekeringan tIdak blsa menyedlakan alr.

Petanl yang pasrah hanya melakukan tanam secara alarni menyesuaikan kondisi alr. Dimana mulal tanam ketlka air sudah mulal turun. Alhasil, banyak petani dl Kalimantan Selatan yang daerahnya lahan rawa hanya tanam satu kali setahun. 
Darl hasll penelitian yang sudah dilakukan Prof M Noor, kuncl pertama pengelolaan tinggl muka air. Kedua, kemampuan memanfaatkan alr pasang masuk untuk kemudian bisa mencuci tanah dari asarn-asam dan racun-racun yang ada di tanah. 

Selama ini, petani hanya membuat saluran masuk untuk memasukkan air dari sungai. Kemudian dengan saluran yang sama mengeluarkan air pada saat surut. Istilahnya dua arah. Pengelolaan air secara tradisional itu kemudan dimodifikasi oleh peneliti Balittra dengan membuat saluran satu arah supaya berputar jadi air benar-benar tercuci sempurna. 

"Proses pencucian air dl lahan rawa pasang surut Ini sangat penting karena tingginya kandungan asam dan unsur lainnya. Untuk menerapkan Ini perlu pintu-pintu alr, jadi Jika air pasang dia menendang terbuka dan kalau surut tertutup," katanya. M Noor menyatakan lahan rawa memang rnemiliki potensi yang sangat besar untuk menghasilkan berbagal komoditas balk tanaman pangan, sayur sayuran, buah buahan maupun tanaman perkebunan. Namun, yang utama dari pengelolaan lahan rawa ini adalah pengelolaan air harus balk sebagal syarat utama. 

Baca Lainnya : Cetak Sawah Baru, Pemerintah Siapkan Lahan Seluas 39.229 Hektare pada 20 Provinsi

Teknologi budidaya setiap tanaman komoditas itu dapat menyesualkan dengan kondisi lahan rawa. Begitu pula dengan benih yang digunakan Juga harus sudah teruji di lahan rawa. "Rawa bisa disebut penyangga pangan nasional. Pada saat Agustus paceklik di tempat lain, sementara di Kalimantan Selatan panen. ltu kelebihan darl rawa," kata profesor lulusan S3 di Universitas Gadjah Mada. 

Sekarang tugas Balittra bersama mendorong petanl agar semangat melakukan tanam dua sampal tiga kali setahun melalui penerapan teknologl tepat guna yang sudah dlkembangkan oleh para peneliti. Tanam satu kali setahun sebenarnya leblh kepada budaya masyarakat yang cenderung hanya mengikuti kondisi alam alias tak mau "melawan" alam. Ada juga yang berkeyakInan, memberikan kesempatan lahan untuk "bemafas" sebelum kembali ditanam untuk masa tanam berikutnya. [NN]

 

 

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


jesica oktavia 13 Sep 2019 - 15:33

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait