Habibie Pernah Barter Pesawat CN-235 dengan 110.000 Ton Beras Ketan

TrubusNews
Hernawan Nugroho
12 Sep 2019   13:00 WIB

Komentar
Habibie Pernah Barter Pesawat CN-235 dengan 110.000 Ton Beras Ketan

Barter CN-235 dengan bahan pangan dari negara lain dilakukan dengan berbagai pertimbangan (Foto : wikimedia)

Trubus.id -- Pada dasarnya, barter adalah kegiatan tukar-menukar barang atau jasa yang terjadi tanpa perantaraan uang. Intinya, untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari dari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya. Hal yang sama pernah dilakukan oleh BJ Habibie saat melakukan barter 2 pesawat dengan 110.000 ton beras ketan dari Thailand pada 1996.

Menurut laman National Geographic kajian sejarah barter sudah ada sejak 6000 SM. Suku-suku Mespotamia yang memperkenalkan untuk pertama kali menurut sejarah. Item yang populer digunakan untuk pertukaran pada masa lalu adalah garam. Dahulu, garam dianggap sebagai barang berharga. Bahkan gaji tentara Romawi dibayar dalam garam.

Baca Lainnya : Wujudkan Lumbung Pangan Dunia, Kementan Serius Bangun Pertanian Modern

Sampai sekarang barter masih dipergunakan. Memang, lazimnya saat terjadi krisis ekonomi di mana nilai mata uang mengalami devaluasi akibat hiperinflasi. Namun, yang patut digarisbawahi, barter bukanlah sebuah aib bagi pihak yang melakukannya. Dalam banyak kasus, sistem ekonomi itu dilakukan justru untuk menunjukkan kekuatan ekonomis barang yang dipertukarkan. Berikut ini beberapa kasus barter di era modern seperti yang diinformasikan oleh the Economist.

Contoh paling mudah dilihat adalah barter yang dilakukan negara Iran saat menerima "hukuman" embargo dari Amerika Serikat usai revolusi Iran pada 1979. Mereka menggunakan sistem barter untuk mendukung dan mempertahankan kestabilan perekonomian. Setelah itu, orang-orang Iran harus membarter lebih banyak lagi setelah sanksi yang lebih ketat dikenakan oleh PBB antara 2010 hingga 2015. Teheran kemudian mulai menawarkan minyak mentah dan emas yang disimpan di negara lain untuk ditukar dengan kebutuhan makanan, seperti beras, minyak goreng, dan teh.

Produk sumber daya alam lazim dijadikan bahan barter untuk ditukar dengan barang berteknologi tinggi (Foto: the economist)

Negara tetangga, Malaysia, pada era1990-an membarter kepala sawitnya dengan pesawat tempur Rusia. Pada awal tahun 2019, sebagai langkah yang sama ditempuh lagi ketika Malaysia hendak memodernisasi militernya, namun tak cukup memiliki anggaran.

Di Venezuela (sebelum krisis saat ini-Red), tidak hanya barang saja yang dibarter,  bentuknya bisa juga tenaga kerja. Negara itu mengirim minyak sebanyak 50.000 barel setiap hari ke Kuba. Sebagai gantinya, Kuba mengirimkan dokter ahli, guru dan penasehat keuangan untuk bekerja di Venezuela.

Sistem barter juga terkadang digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional sebagai representasi (mewakili) kepentingan negara. Perusahaan raksasa Amerika Serikat, Pepsi pernah menukar minuman bersodanya dengan saus berbahan baku tomat dari Uni Soviet, agar bisa masuk ke pasar negara itu pada tahun 1970-an. Bahkan, perusahaan itu menukar produk minumannya dengan vodka, bahkan kapal perang Uni Soviet.

Baca Lainnya : Kemenlu Sebut Produk Tanaman Pangan RI Potensial di Ekspor ke Amerika Latin

Bagaimana dengan Indonesia? Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang saat itu di bawah pengawasan Menteri Riset dan Teknologi, Prof. BJ. Habibie yang menukar dua pesawatnya dengan 110.000 ton beras ketan dari Thailand pada 1996. Merujuk pada keputusan Indonesia yang menukar pesawat buatannya demi beras ketan Thailand, ekonom Travis Taylor mengatakan kepada BBC, bahwa perusahaan itu pada dasarnya supaya ada transaksi yang berjalan. 

"Dalam kasus itu, transaksi itu pada dasarnya untuk membangun reputasi (di pasar yang baru)," ujar profesor ekonomi di Universitas Christopher Newport di Virginia. "Tidak ada yang mau terjebak dengan berton-ton beras ketan. Tetapi perusahaan ini juga menginginkan bukti bahwa pesawat itu bisa dijual dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi." Sebuah langkah cerdas yang menghasilkan double effect yang cukup menguntungkan bagi indonesia saat itu, menurut Taylor.

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Kemenkeu Segera Bekukan Aliran Dana Desa Mal-administrasi

Peristiwa   20 Nov 2019 - 08:45 WIB
Bagikan:          

Ini Syarat Pencairan Dana Desa

Peristiwa   20 Nov 2019 - 09:06 WIB
Bagikan: