Hingga Agustus, Karhutla di Indonesia Lepas 109,7 Juta Ton Karbon Dioksida

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
11 Sep 2019   15:30

Komentar
Hingga Agustus, Karhutla di Indonesia Lepas 109,7 Juta Ton Karbon Dioksida

Data Karhutla Indonesia (Foto : Dok. BNPB)

Trubus.id -- Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, selama periode Januari hingga Agustus 2019, luas hutan dan lahan terbakar ada 328.724 hektar, dengan rincian lahan mineral yang terbakar seluas 239.161 hektare sementara lahan gambut 89.563 hektare. Di hutan konservasi 28.854 hektar, hutan lindung 18.978 hektare, dan hutan produksi terbatas 23.692 hektar. Sementara hutan produksi 61.140 hektare, hutan produksi konversi 29.642 hektare, dan di APL 166.417 hektare.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Ruandha Agung Sugardiman menyebut, jika menghitung emisi yang lepas dari terjadinya kebakaran hutan, data KLHK menunjukkan dari total 328.724 hektare lahan yang terbakar, emisi karbon yang lepas sebanyak 109,7 juta ton CO² ekuivalen. Pelepasan emisi dari gambut 82,7 juta ton CO² ekuivalen, Kemudian emisi kebakaran above ground biomass sebesar 27 juta ton CO² ekuivalen.

Data tersebut dipaparkan berdasarkan hasil hitungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga 31 Agustus 2019.

Baca Lainnya : KLHK Klaim Karhutla Sepanjang 2019 Masih Normal

“Ini masih lebih rendah dari kebakaran hutan yang terjadi pada 2018 yakni sebesar 121 juta ton CO² ekuivalen,” jelasnya ketika ditemui di Kantor KLHK, Senayan, Jakarta, Selasa (10/9).

Sementara untuk kualitas udara, Ruandha mengatakan, saat ini kualitas udara di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla tergantung dengan bagaimana kondisi curah hujan yang ada. Dirinya mengakui, meski upaya pemadaman telah dilakukan pemerintah, tapi jaminan kualitas udara yang sehat hanya tergantung dari pergerakan cuaca itu sendiri.

“Sehingga kita perlu merubah paradigma dari pemadaman menjadi pencegahan,” ungkapnya lagi.

Baca Lainnya : Sebut Sumber Karhutla di Sarawak, Menteri LHK Segera Layangkan Protes ke Malaysia

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memprediksi kualitas udara akan kembali normal pada pertengahan November.

Sementara itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 11 September 2019 hingga pukul 09.00 WIB, titik panas terdeksi di sejuumah wilayah seperti Riau sebanyak 317 titik panas, Jambi 636 titik, Sumatera Selatan 377 titik, Kalimantan Barat 923 titik, Kalimantan Tengah 1.220 titik, Kalimantan Selatan 193 titik.

“Titik panas masih mendominasi wilayah Kalimantan Tengah hingga 1.220 titik panas,” tulis data BNPB. [NN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: