KLHK: Sampai Agustus Total 328,724 Hektare Lahan Terbakar

TrubusNews
Astri Sofyanti
11 Sep 2019   10:00 WIB

Komentar
KLHK: Sampai Agustus Total 328,724 Hektare Lahan Terbakar

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) KLHK Raffles Panjaitan ketika memaparkan data statistik karhutla di Kantor KLHK, Jakarta, Selasa (10/9/19) (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Kementerian lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia hingga Agustus 2019, menghanguskan lahan hingga 328,724 hektare. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) KLHK Raffles Panjaitan menyebut luas lahan yang terbakar meliputi lahan mineral seluas 239,161 hektare dan lahan gambut seluas 89,563 hektare.

“Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan wilayah yang paling luas terjadi karhutla dengan total luas lahan gambut dan lahan mineral terbakar mencapai 108,368 hektare. Hal ini terjadi lantaran lahan di NTT didominasi ladang savana sehingga mudah terbakar,” ujarnya saat ditemui di Kantor KLHK, Senayan, Jakarta, Selasa (10/9).

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga 6 September 2019 menunjukkan, pemadaman jalur udara dengan melakukan water boombing sebanyak 66.349 kali dengan jumlah air yang dijatuhkan sebanyak 239.633.200 liter air.

Baca Lainnya : KLHK Klaim Karhutla Sepanjang 2019 Masih Normal

Sementara rekapitulasi pesawat dan helikopter yang diterjunkan untuk pemadaman dan patroli hingga 9 September 2019 berjumlah 46 unit, dengan rician, Riau sebanyak 17 unit, Sumatera Selatan 9 unit, Kalimantan Barat sebanyak 7 unit, dan Kalimantan Tengah 7 unit.

Meski begitu, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK, Ruandha Agung Sugardiman menyebut, kejadian karhutla yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 dinilai masih normal.

Baca Lainnya : Hadapi Puncak Musim Kemarau, BMKG, KLHK, BNPB dan BPPT Siapkan Hujan Buatan

“Peristiwa karhutla di Indonesia merupakan fluktuasi tahunan yang biasa,” ujarnya.

Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan dua bulan kedepan tepatnya Oktober hingga pertengahan November titik panas (hotspot) masih akan cukup tinggi, hal ini lantaran musim kemarau 2019 yang terjadi lebih panjang. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: