KLHK Klaim Karhutla Sepanjang 2019 Masih Normal

TrubusNews
Binsar Marulitua
11 Sep 2019   08:00 WIB

Komentar
KLHK Klaim Karhutla Sepanjang 2019 Masih Normal

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK, Ruandha Agung Sugardiman saat memeberikan keterangan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gedung KLHK, Jakarta (10/9/3019). (Foto : Dok KLHK)

Trubus.id -- Kementerian lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan bahwa kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 masih normal. Peristiwa karhutla di Indonesia merupakan fluktuasi tahunan yang biasa. 

"Apa yg terjadi di kita ini merupakan fluktuasi tahunan yang biasa terjadi di Indonesia, ini masih di bawah dari Business As Usual (BAU) yang biasa terjadi di Indonesia. Hal ini karena Pemerintah Indonesia telah merubah paradigma dari pemadaman menjadi pencegahan," ujar Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK, Ruandha Agung Sugardiman di Gedung KLHK, Jakarta (10/9).

Baca Lainnya : Sebut Sumber Karhutla di Sarawak, Menteri LHK Segera Layangkan Protes ke Malaysia

Ruandha menjelaskan, menurut data KLHK sampai 31 Agustus 2019, luas areal lahan dan hutan yang terbakar seluas 328 ribu hektare. hal tersebut masih 35 persen lebih rendah dari luas areal terbakar pada tahun 2018 yang mencapai 510 ha.  Luas areal terbakar tahun 2019 itu terbagi di lahan gambut seluas 89 ribu, dan di lahan tanah mineral seluas 239 ribu ha.

"Data ini mengkonfirmasi jika perlindungan areal gambut di Indonesia lebih baik karena luas areal terbakar tidak didominasi pada areal gambut yang sulit dipadamkan melainkan di tanah-tanah mineral yang relatif lebih mudah dipadamkan," tambahnya. 

Kemudian, lanjut Ruandha, untuk dua bulan kedepan ditambahkan oleh BMKG jika pada Bulan Oktober hingga pertengahan Bulan November kondisi kemungkinan terjadinya hotspot masih cukup tinggi, hal ini karena pengaruh musim kemarau yang lebih panjang. 

Tetapi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofiska (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah bersiap melakukan hujan buatan.  Bibit-bibit awan sudah mulai ada, sehingga sudah bisa dilakukan pembuatan hujan buatan.

"Di Riau dan Palembang sudah dilakukan pembuatan hujan buatan, untuk Kalimantan Barat masih menunggu terbentuknya bibit awan guna penyemaian garam untuk hujan buatan," tambahnya. 

Baca Lainnya : Sanggahan BMKG Tolak Kabut Asap di Sarawak Berasal Indonesia

Ia malanjutkan kegiatan modifikasi cuaca (TMC) dengan pembuatan hujan buatan hingga tanggal 6 September 2019 telah dilakukan 207 kali sorti, dengan jumlah garam yang ditaburkan mencapai 160.816 kg.

Lalu untuk Penegakan hukum, KLHK bekerja sama dengan Kepolisian RI telah melakukan upaya penegakan hukum kepada perusahaan yang diduga lalai dalam menjaga arealnya dari kebakaran. Ada total 18 perusahaan yang telah disegel arealnya. 

"Rinciannya di Kalimantan Barat sebanyak 10 perusahaan, di Jambi 1 perusahaan, di Riau ada 3 perusahaan dan di Kalimantan Tengah ada 4 perusahaan,"pungkasnya. 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Upaya Outreach Sawit Indonesia Berkelanjutan di Slowakia

Peristiwa   16 Des 2019 - 09:20 WIB
Bagikan:          
Bagikan: