Sanggahan BMKG Tolak Kabut Asap di Sarawak Berasal Indonesia

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
10 Sep 2019   23:29

Komentar
Sanggahan BMKG  Tolak  Kabut Asap di Sarawak Berasal Indonesia

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat memberi penjelasan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa (10/9/2019). (Foto : KLHK)

Trubus.id -- Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, gerakan asap yang masuk wilayah Sarawak, Malaysia bukan bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Indonesia. Asap yang mengepung kota tersebut, disinyalir berasal dari lokal hotspot

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, lokal hotspot yang menimbulkan asap di semenanjung Malaysia terjadi karena lonjakan signifikan jumlah hotspot yang hampir merata di wilayah Semenanjung Malaysia. Pada tanggal 6 September 2019 terdapat 1.038 titik panas menjadi 1.423 titik panas pada tanggal 7 September 2019. 

Sementara itu, di wilayah Riau dan perbatasan Sumatera Timur dengan Malaysia terjadi penurunan jumlah titik panas secara signifikan. Dari 869 titik panas dari tanggal 6 September menjadi 544 titik panas pada tanggal 7 September.

Baca Lainnya : Sebut Sumber Karhutla di Sarawak, Menteri LHK Segera Layangkan Protes ke Malaysia

Kondisi arah angin juga tidak memungkinkan adanya asap lintas batas dari Indonesia karena sejak tanggal 5 September hingga 9 September arah angin di wilayah perbatasan Riau dengan Semenanjung Malaysia cenderung bergerak dari arah Tenggara ke Barat Laut dengan kecepatan 5 – 10 knot.

 Sehingga kabut asap dari Karhutla di Indonesia (Riau) tidak akan mencapai wilayah Malaysia dan Singapura.

"Asap di Sumatera (Riau) tidak terdeteksi melintasi Selat Malaka karena terhalang oleh angin kencang dan dominan di Selat Malaka yang bergerak dari arah Tenggara ke Barat Laut," ucap Dwikorita di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa (10/9/2019).

Dwikorita juga mengonfirmasi, untuk hotspot di wilayah Serawak dan Kalimantan Barat,  jika berdasarkan analisis dari citra satelit Himawari dan analisis Geohotspot BMKG, terdeteksi terjadi lonjakan titik panas di Serawak dan Kalimantan Barat pada tanggal 4 September 2019.

Baca Lainnya : Menteri LHK Masih Periksa 1380 Kontainer Impor Diduga Bercampur Sampah dan Limbah

Tetapi, sempat terjadi penurunan titik panas pada tanggal 8 September 2019 di Serawak, namun meningkat kembali pada tanggal 9 September 2019.

Sementara untuk di Kalimantan Barat terjadi penurunan titik panas dari tanggal 8 September 2019 ke 9 September 2019.

"Artinya jika terjadi asap di wilayah Serawak itu disebabkan oleh lokal hotspot di wilayah Serawak yang ternyata jumlahnya juga meningkat terus beberapa hari terakhir," tambahnya. 

Ia melanjutkan, untuk asap yang berasal dari hotspot di Serawak, Semenanjung Malaysia dan Kalimantan Barat ini diperkirakan terakumulasi di perairan Laut Cina Selatan karena ada dorongan angin dari arah Tenggara ke Barat Laut.

Data dan fakta tersebut semakin menjelaskan bahwa tidak terjadi asap lintas batas (transbondary haze) yang berasal dari kejadian Karhutla di Indonesia.


 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: