Pemerintah Jepang Berencana Buang Air Radioaktif dari PLTN Fukushima ke Lautan

TrubusNews
Syahroni
10 Sep 2019   21:30 WIB

Komentar
Pemerintah Jepang Berencana Buang Air Radioaktif dari PLTN Fukushima ke Lautan

Tangki penyimpanan untuk air radioaktif terlihat di PLTN Fukushima Daiichi, Tokyo Electric Power Co (TEPCO) di Okuma, prefektur Fukushima, Jepang. (Foto : REUTERS/Issei Kato)

Trubus.id -- Tokyo Electric Power Jepang (9501.T) harus membuang air radioaktif dari PLTN Fukushima yang hancur ke Samudra Pasifik ketika kehabisan ruang untuk menyimpannya, kata menteri lingkungan hidup Selasa. Tokyo Electric, atau Tepco, telah mengumpulkan lebih dari 1 juta ton air yang terkontaminasi dari pipa pendingin yang digunakan untuk menjaga agar inti bahan bakar tidak meleleh sejak pabrik itu lumpuh akibat gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011.

"Satu-satunya pilihan adalah mengalirkannya ke laut dan mencairkannya. Seluruh pemerintah akan membahas ini, tetapi saya ingin menawarkan pendapat sederhana saya," kata menteri Lingkungan Hidup Jepang, Yoshiaki Harada, dalam jumpa pers di Tokyo dilanir dari Reuters, Selasa (10/9).

Pemerintah Jepang saat ini sedang menunggu laporan dari panel ahli sebelum membuat keputusan akhir tentang cara membuang air radioaktif.

Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, dalam jumpa pers terpisah, menggambarkan komentar Harada sebagai "pendapat pribadinya".

Tepco tidak dalam posisi untuk memutuskan apa yang harus dilakukan tetapi akan mengikuti kebijakan begitu pemerintah membuat keputusan, kata juru bicara perusahaan utilitas tersebut.

Utilitas itu mengatakan akan kehabisan ruang untuk menyimpan air pada tahun 2022. Harada tidak mengatakan berapa banyak air yang perlu dibuang ke laut.

Setiap lampu hijau dari pemerintah untuk membuang limbah ke laut akan membuat marah negara tetangga seperti Korea Selatan, yang memanggil seorang pejabat senior kedutaan Jepang bulan lalu untuk menjelaskan bagaimana air Fukushima akan ditangani.

"Kami hanya berharap untuk mendengar lebih detail dari diskusi yang sedang berlangsung di Tokyo sehingga tidak akan ada pengumuman yang mengejutkan," kata seorang diplomat Korea Selatan kepada Reuters, yang meminta tidak disebutkan namanya karena sensitivitas hubungan bilateral.

Kementerian luar negeri Korea Selatan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah meminta Jepang untuk mengambil keputusan yang bijaksana tentang masalah ini.

Hubungan antara negara-negara Asia Timur sudah membeku menyusul perselisihan tentang kompensasi untuk Korea yang dipaksa bekerja di pabrik-pabrik Jepang dalam Perang Dunia Kedua.

Pembangkit nuklir pantai umumnya membuang ke air lautan yang mengandung tritium, isotop hidrogen yang sulit untuk dipisahkan dan dianggap relatif tidak berbahaya.

Tepco, yang juga menghadapi tentangan dari para nelayan, mengakui tahun lalu bahwa air di bak-baknya masih mengandung kontaminan di samping tritium.

"Pemerintah harus berkomitmen pada satu-satunya pilihan yang dapat diterima secara lingkungan untuk mengelola krisis air ini yang merupakan penyimpanan dan pemrosesan jangka panjang untuk menghilangkan radioaktivitas, termasuk tritium," terang Shaun Burnie, spesialis nuklir senior dari Greenpeace Jerman, mengatakan dalam emailnya kepada Reuters. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: