Kerusakan Paru Akibat Rokok Elektrik dan Rokok Biasa Sama Bahayanya

TrubusNews
Thomas Aquinus
07 Sep 2019   23:00 WIB

Komentar
Kerusakan Paru Akibat Rokok Elektrik dan Rokok Biasa Sama Bahayanya

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dokter spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan Feni Fitriani Taufik mengungkapkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap tikus, dampak buruk rokok elektronik tidak berbeda dengan rokok biasa.

"Kerusakan paru pada tikus yang dipaparkan rokok elektronik, sama dengan tikus yang dipaparkan dengan rokok biasa," kata Feni dalam diskusi tentang rokok elektronik yang diadakan Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau di Jakarta, Jumat (6/9).

Feni menyampaikan, bahwa dampak bagi manusia lebih sulit dideteksi karena memerlukan waktu yang lama. Sementara itu, dampak pada penelitian terhadap binatang bisa lebih mudah diketahui karena bisa langsung diautopsi.

Oleh sebab itu, Feni heran dengan  klaim rokok elektronik lebih aman daripada rokok biasa. Padahal di Singapura sudah menolak rokok elektronik karena belum ada bukti ilmiah bahwa rokok elektronik lebih aman.

Baca Lainnya : Pola Makan yang Salah Lebih Berbahaya Bagi Tubuh Dibandingkan Merokok

"Apalagi di luar negeri sudah ada beberapa kasus anak dan remaja yang kejang-kejang setelah menggunakan rokok elektronik. Apakah kita mau menunggu ada kejadian serupa di Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah Hafizh Syafa’aturrahman meminta kepada pemerintah untuk tegas mengatur rokok elektronik agar dampaknya buruknya tidak terjadi pada generasi muda.

"Kami meminta kepedulian pemerintah kepada generasi muda. Kalau memang berbahaya, tolong tegas. Lakukan yang seharusnya pemerintah lakukan," katanya.

Baca Lainnya : WHO Akhirnya Ketuk Palu, Rokok Elektrik Sudah Pasti Berbahaya untuk Tubuh

Hafizh mengatakan Ikatan Pelajar Muhammadiyah selama ini aktif mengadvokasi pelajar di Indonesia terhadap dampak buruk rokok, termasuk saat ini rokok elektronik.

"Kami tidak bisa masuk ke legislatif dan pengambil kebijakan, tetapi bersinggungan langsung dengan pelajar, tidak hanya dari Muhammadiyah. Kalau ada pelajar yang tersakiti, Ikatan Pelajar Muhammadiyah juga merasa tersakiti," tuturnya. (ANTARA)

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Menkraf Dorong Indonesia Miliki Peta Geospasial Pariwisata

Peristiwa   22 Feb 2020 - 14:25 WIB
Bagikan: