Indonesia Angkat Pentingnya Bioenergi dan Kendaraan Listrik dalam Transisi Energi di Forum ASEAN

TrubusNews
Binsar Marulitua
04 Sep 2019   22:30 WIB

Komentar
Indonesia Angkat Pentingnya Bioenergi dan Kendaraan Listrik dalam Transisi Energi di Forum ASEAN

Wamen ESDM Archandra Tahar (Foto : KESDM)

Trubus.id -- Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyampaikan bahwa bioenergi merupakan tahapan penting dalam transisi energi dan berperan penting untuk mencapai target Paris Agreement.

 Hal tersebut disampaikan Arcandra pada forum 37th ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM37) di Athenee Hotel, Bangkok, Thailand, Rabu (4/9/2019).

"Bioenergi merupakan tahapan penting dalam transisi energi dan berperan penting untuk mencapai target Paris Agreement. ASEAN mengakui pentingnya bioenergi dalam transisi energi," jelas Arcandra. 

Arcandra menyebut, Asia Tenggara adalah kawasan yang kaya akan sumber daya bioenergi, namun saat ini potensi bioenergi di negara-negara anggota ASEAN belum dimanfaatkan secara optimal. Indonesia memiliki resource bioenergi yang melimpah, terutama minyak sawit untuk campuran gas oil dan juga dikonversi menjadi green diesel.

Dokumen IRENA Report on Global Energy Transformation (2018) memperkirakan bahwa target energi terbarukan di masa depan tidak dapat dicapai tanpa bioenergi.

IPCC dalam Energy Technology Perspectives (ETP) Scenario and Biofuture Platform Report juga telah membahas bahwa tujuan pengurangan emisi global tidak dapat dicapai tanpa biofuel. Oleh karena itu, Arcandra mendorong ASEAN untuk meningkatkan kolaborasi dalam pengembangan bioenergi berkelanjutan di negara-negara ASEAN.

"Laporan-laporan tersebut juga dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan pengurangan emisi global tidak dapat tercapai tanpa hadirnya kendaraan listrik. Peraturan Presiden tentang kendaraan listrik untuk transportasi darat baru saja diterbitkan. Mempromosikan kendaraan listrik diperlukan bagi Indonesia untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan juga menurunkan emisi gas rumah kaca," papar Arcandra.

Untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia sendiri, peran batubara memang masih dominan sebagai sumber energi.

Namun, Pemerintah mulai mendorong penggunaan gas dan energi terbarukan serta penggunaan Clean Coal Technology pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara, dengan tetap mengatur tarif listrik untuk pelanggan agar tetap terjangkau.

Baca Lainnya : KLHK dan KESDM Dorong Pemegang IPPKH Realisasikan Kewajiban Perbaikan Lahan Kritis

Upaya transisi energi dilakukan tidak hanya di sektor pembangkitan, namun juga di sektor transportasi. Indonesia telah memperkenalkan B20 (campuran 20% biodiesel pada bahan bakar diesel) yang sebagian besar disuplai dari minyak kelapa sawit. Bahkan, tahun depan Indonesia berencana untuk mengimplementasikan mandatori B30 (campuran 30% biodiesel pada bahan bakar diesel).

Hal tersebut juga telah diungkapkan Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu selaku Alternate Senior Official of Energy Leader Indonesia pada Senior Official Meeting on Energy (SOME) sehari sebelumnya.

37th ASEAN Ministerial on Energy Meeting (AMEM37) merupakan forum utama para Menteri Energi ASEAN dalam menentukan arah kebijakan kerja sama energi ASEAN. Sementara SOME merupakan pertemuan tahunan antarpejabat tinggi energi ASEAN dengan para mitra wicara (dialogue partners) dan organisasi internasional, menjadi wadah dalam merefleksikan perubahan dinamis dalam lanskap energi global terkini, pentingnya kemampuan adaptasi, dan menangkap peluang-peluang inovasi dalam rangka pencapaian transisi energi untuk pertumbuhan berkelanjutan di negara-negara ASEAN.

Baca Lainnya : CIFOR Berharap Jokowi Pertahankan Tata Kelola Hutan Indonesia

Pertemuan tersebut membahas implementasi dan capaian kerja sama ASEAN sesuai dengan dokumen acuan ASEAN Plan of Action on Energy Cooperation (APAEC). Sebanyak 7 focal point area kerja sama energi menyampaikan capaian dan kemajuan aktivitas kerja sama. Selanjutnya, materi tersebut didiskusikan untuk mencapai kesepakatan bersama seluruh negara ASEAN dan diadopsi dalam draft Joint Ministerial Statement, yang disampaikan pada pertemuan AMEM. (DPR/KO)

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: