Penggunaan Pestisida Oleh Petani Indonesia Sudah Diambang Batas

TrubusNews
Thomas Aquinus
03 Sep 2019   07:30 WIB

Komentar
Penggunaan Pestisida Oleh Petani Indonesia Sudah Diambang Batas

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Penggunaan pestisida oleh petani Indonesia dinilai sudah diambang batas. Akibatnya beberapa hama dan penyakit tanaman justru mengalami resistensi. Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Sub Bidang Pengawasan Pupuk dan Pestisida, Direktorat Pupuk dan Pestisida, Direktorat Jenderal Prasarana dan Pertanian, Endah Susilawati yang menyarankan penggunaan pestisda di petani harus dipantau terus.

Dirinya menilai, karena penggunaan bahan kimia, terutama pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan menyebabkan kondisi tanah pertanian di Indonesia mulai rusak,

“Memang penggunaan pestisida sangat dibutuhkan karena mencegah meluasnya penyebaran OPT, menjaga produksi tanaman, menjaga kualitas produk di gudang. Tetapi sayangnya, petani kita masih menggunakan pestisida secara berlebihan,” ujarnya dilansir tabloidsinartani.

Baca Lainnya : Musim Kemarau, Tak Halangi Petani di Bali Produksi Padi

Penggunaan pestisida kimia yang overdosis akan berdampak pada hama dan penyakit tanaman menjadi resisten. Hama juga menjadi lebih pesat perkembangbiakannya. Bahkan dampak lebih lanjut akan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan juga merusak tanah.

“Permasalahan lainnya adalah terjadinya resurjensi, timbulnya ledakan hama sekunder, terbunuhnya musuh alami, gangguan kesehatan, residu pestisida dan pencemaran lingkungan,” katanya.

Dirinya menilai banyaknya petani menggunakan pestisida kimia karena caranya mudah dan praktis, reaksinya cepat, lebih murah, dan lebih efisien untuk skala luas. 

Karena pestisida merupakan bahan beracun dan bisa dampak negatif jika berlebihan, maka perlu dikelola dengan penuh kehati-hatian. Untuk itu pestisida yang petani gunakan harus terdaftar dan telah memiliki izin edar.

Baca Lainnya : Nilai Tukar Petani Naik 0,58 Persen pada Agustus 2019, Perkebunan Rakyat Lesu

Regulasi yang menjadi dasar hukumnya adalah UU No.12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, PP No.7/1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida , Permentan No.107/2014 tentang Pengawasan Pestisida, dan Permentan No.39/2015 tentang Pendaftaran Pestisida.

“Pendaftaraan pestisida, bukan hanya sebatas pestisida sintetik saja, pestisida alami pun sebaiknya harus didaftarkan agar dapat dipertanggungjawabkan ketika terjadi suatu masalah,” ujar Endah. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: