Pedasnya Cabai Kerek Inflasi Agustus 2019 Sebesar 0,12 Persen

TrubusNews
Binsar Marulitua
02 Sep 2019   13:45 WIB

Komentar
Pedasnya Cabai Kerek Inflasi Agustus 2019 Sebesar 0,12 Persen

Pedagang cabai di pasar tradisional (Foto : Trubus.id/ M. Iman P Perkasa)

Trubus.id -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto melaporkan, inflasi selama bulan Agustus 2019 sebesar 0,12%. Angka ini lebih rendah dibanding Juli 2019 sebesar 0,31%. Meski demikian,inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2019 mencapai 2,48%. 

"Sementara inflasi tahun ke tahun (Agustus 2019 terhadap Agustus 2018) sebesar 3,49%," ujar Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Senin (2/9).

Suhariyanto menerangkan bahwa, salah satu komoditas yang menyebabkan inflasi bulan Agustus 2019 adalah kenaikan harga cabai merah, cabai rawit. Selain itu, emas perhiasan, uang sekolah, dan tarif sewa rumah turut menjadi pemicu  inflasi pada Agustus 2019.

Baca Lainnya : Cegah Inflasi, Pemerintah Harus Mewaspadai Tren Kenaikan Harga Cabai

Kenaikan harga komoditas cabai disebabkan oleh musim kemarau yang berdampak pada produksi tanaman pangan dan kenaikan harga emas di pasar internasional.

Ia melanjutkan kenaikan harga cabai, merah memberikan andil inflasi sebesar 0,1 persen dan harga cabai rawit memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen kepada kelompok bahan makanan pada Agustus 2019 karena adanya penurunan suplai di sentra produksi.

"Kenaikan harga cabai merah terjadi karena penurunan suplai di sentra produksi karena musim kemarau dan menyebabkan kenaikan di 62 kota, misalnya di Mamuju naik 54 persen dan Kupang naik 14 persen," lanjut Suhariyanto.

Baca Lainnya : Kenaikan Cabai Merah Picu Inflasi 0,2 Persen pada Juli 2019

Dari 82 kota yang dipantau BPS,Sambung Suhariyanto, 44 kota mengalami inflasi dan 38 kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kudus sebesar 0,82% dan inflasi terendah terjadi di Tasikmalaya dan Madiun sebesar 0,04%.

Sementara untuk deflasi tertinggi dialami Bau-Bau sebesar -2,2% dan deflasi terendah di Tegal dan Pare -0,02%.

 

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Bina Swadaya Kritisi UU Kontroversial Cipta Kerja

Peristiwa   24 Nov 2020 - 18:26 WIB
Bagikan:          
Bagikan: