Kementan Terapkan Teknologi Pengendalian OPT untuk Hasilkan Beras Organik Kualitas Ekspor

TrubusNews
Astri Sofyanti
02 Sep 2019   13:00 WIB

Komentar
Kementan Terapkan Teknologi Pengendalian OPT untuk Hasilkan Beras Organik Kualitas Ekspor

Lahan pertanian di Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Pemerientah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya meningkatkan produksi beras organik lokal bestandar ekspor. Tercatat ekspor beras organik dari tahun ke tahun meningkat. Indonesia juga berhasil melakukan ekspor beras organik ke sejumlah negara seperti Jepang, Hongkong, Jerman, US, Perancis, Malaysia dan Singapura.

Kementan bahkan telah menerbitkan rekomendasi ekspor 143 ton beras organik dan sampai dengan Juni 2019 sebanyak 252 ton beras organik. Dengan demikian, ini menjadi angin segar bagi para petani yang membudidayakan padi secara organik.

Dalam siaran persnya, Senin (2/9), Kepala Bidang Pelayanan Teknis Informasi dan Dokumentasi, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwarman menyatakan dalam menghasilkan beras organik yang bisa diterima pasar luar tentunya tidak terlepas dari sistem budidaya yang menghindari bahan-bahan kimia. Salah satunya dalam hal pengendalian OPT dengan menggunakan agens hayati.

Baca Lainnya : Sukseskan Program UPSUS SIWAB, Kementan Apresiasi Peran Paravetindo

“Penerapan teknologi pengendalian OPT pada pertanian organik dengan tindakan pencegahan yang sesuai dengan prinsip budidaya organik,” kata Suwarman di Jatisari, Karawang, Senin (2/9).

Suwarman menjelaskan Paenibacillus polymyxa merupakan bakteri antagonis yang cukup efektif untuk menekan serangan OPT, seperti blas dan Hawar Daun Bakteri pada pertanaman padi. Di alam banyak terdapat mikroorganisme yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan OPT yang menyerang pada pertanaman, baik itu yang bersifat antagonis maupun entomopatogen .

“Hal ini selaras dengan pesan Bapak Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi pada saat kunjungan kerja di Balai Besar Peramalan OPT, bahwa setiap penyakit dan hama pasti ada obatnya di sekitarnya, yaitu secara alami,” sebutnya.

Baca Lainnya : Kementan Dorong Ekspor Beras ke Arab Saudi

Agus (65 tahun) seorang petani asal Desa Galudra, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta yang sudah membudidayakan padi organik sejak 7 tahun yang lalu mengungkapkan awal memulai budidaya padi organik, ia menetralisir air yang mengalir dari sumber aliran dengan menggunakan tanaman eceng gondok yang ditanam dan ditampung dalam kolam. Kemudian air tampungan tersebut dialirkan pada petakan padi organik seluas lebih kurang 2500 m2.

“Sudah 3 tahun terakhir, saya jarang menemukan serangan OPT yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan penerapan teknologi yang berkesinambungan disetiap musimnya. Teknologi pengendalian OPT dimulai dari penyeleksian benih dengan menggunakan air garam, selanjutnya direndam dalam larutan bakteri Paenibaccillus polymyxa,” ungkapnya.

Baca Lainnya : Kementan Tergetkan Ibukota Baru Mandiri Pangan

Pada saat olah tanah,kata Agus, dirinya mengaplikasikan pupuk kandang berupa kotoran sapi sebanyak 2 kuintal dilanjutkan dengan pemupukan ke-2 dan ke-3 dengan menggunakan air kencing hewan ternak. Sementara upaya dalam menerapkan teknologi pencegahan terhadap kemunculan OPT, yaitu dengan mengaplikasikan larutan bakteri Bacillus subtilis dan Pseudomonas flourescens pada saat umur tanaman 2, 4 dan 6 MST dengan dosis 5 cc/liter.

“Alhamdulillah dengan aplikasi agens hayati, kemunculan OPT bisa dicegah,” bebernya. [NN]

 

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: