TRAFFIC Temukan 40 Grup Khusus Jual Beli Bagian Burung Langka di Facebook 

TrubusNews
Syahroni
01 Sep 2019   08:00 WIB

Komentar
TRAFFIC Temukan 40 Grup Khusus Jual Beli Bagian Burung Langka di Facebook 

Sebuah unggahan jual beli bagian tubuh satwa dilindungi di Facebook. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Ratusan bagian tubuh dari burung enggang gading alias rangkong gading (Rhinoplax vigil) yang hampir punah muncul untuk dijual di grup Facebook berbahasa Thailand, menurut sebuah laporan baru.

Rangkong gading adalah burung besar dengan pertumbuhan semacam helm baja berwarna kuning, oranye, dan merah pada paruhnya yang digunakan seperti gading gajah untuk tujuan estetis. Burung itu dilindungi di kelima negara tempat tinggalnya, tetapi pemburu terus membunuh burung-burung itu dan menjual paruhnya.

Sebuah survei enam bulan yang dilakukan oleh TRAFFIC, Jaringan Pengawasan Perdagangan Satwa Liar, menemukan 40 grup Facebook di mana bagian-bagian helm dan spesies burung enggang lainnya dijual.

Burung rangkong gading ini menghuni hutan tropis Indonesia dan Semenanjung Melayu. Para ilmuwan belum mensurvei populasi mereka, namun perkiraan berdasarkan kepadatan burung per kilometer persegi, dikombinasikan dengan hilangnya habitat dan jumlah burung yang muncul dalam perdagangan ilegal satwa liar, telah membuatnya mendapat status terancam punah dalam Daftar Merah Spesies yang Terancam versi IUCN.

Rangkong gading atau helmeted hornbil, menjadi salah satu burung dilindungi yang banyak dijualbelikan di Facebook. (Foto: Rainforest Rescue)

Sementara bagian rangkong tidak sering muncul di toko-toko fisik, menurut laporan, mereka muncul di seluruh Facebook. Survei TRAFFIC menemukan sedikitnya 236 posting Facebook yang menawarkan 546 bagian rangkong, termasuk 94 kepala penuh, serta potongan perhiasan dan taksidermi.

Pos-pos tersebut sebagian besar terdiri dari rangkong gading, tetapi beberapa mengiklankan bagian dari spesies rangkong lain seperti rangkong besar yang rentan. Beberapa penjual bermarkas di negara-negara yang tidak memiliki rangkong, menunjukkan bahwa setidaknya mereka bisa menyelundupkan bagian melintasi perbatasan, berdasarkan lokasi mereka.

Sejak itu Facebook mengeluarkan kebijakan yang melarang perdagangan satwa liar di platform dari bisnis yang tidak diverifikasi, menurut siaran pers. Sejak itu, 35 dari 40 grup dalam survei TRAFFIC tidak lagi aktif, meskipun pos baru terus naik di lima grup yang tersisa. TRAFFIC mencatat bahwa penjual akan sering kembali setelah periode waktu henti, atau pindah ke tempat rahasia online untuk menjajakan produk mereka. Sejauh ini, Facebook belum menanggapi. 

Kasus-kasus burung rangkong merupakan bagian dari masalah perdagangan satwa liar ilegal yang lebih besar secara online dan di media sosial. Laporan TRAFFIC 2015 menemukan perdagangan gading ilegal berkembang online, terutama di media sosial, sementara laporan 2018 menemukan 1.521 hewan hidup dijual di 12 halaman Facebook berbahasa Thailand. Perdagangan satwa liar terus menjadi masalah di seluruh dunia untuk hewan seperti gajah, badak, dan tenggiling.

TRAFFIC menyarankan pelaporan pos yang mengiklankan penjualan satwa liar ilegal ke otoritas hukum, TRAFFIC, dan Facebook. Namun laporan itu juga menunjukkan bahwa melindungi burung rangkong akan membutuhkan lebih banyak kerjasama antara negara-negara yang terlibat dan pemantauan online yang lebih ketat.

TRAFFIC merilis laporan tersebut sebagai bagian dari Konferensi ke-18 Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora yang saat ini terjadi di Jenewa, Swiss. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: