Terungkap, Peneliti Sebut Deforestasi Jadi Penyebab Utama Kebakaran Hutan Amazon

TrubusNews
Astri Sofyanti
29 Agu 2019   15:30 WIB

Komentar
Terungkap, Peneliti Sebut Deforestasi Jadi Penyebab Utama Kebakaran Hutan Amazon

Kebakaran hutan Amazon (Foto : AFP/GETTY IMAGES)

Trubus.id -- Baru-baru ini sebuah penelitian yang dilakukan Institut Penelitian Lingkungan Amazon (IPAM) dan Federal University of Acre, Brasil mengungkapkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan Amazon akibat deforestasi. Dikaporkan ada 10 kotamadya di kawasan dengan peringatan deforestasi terbanyak adalah juga yang mengalami kebakaran tahun ini.

Hubungan antara deforestasi dan kebakaran ini membantah pendapat yang menyatakan bahwa kebakaran tahun ini terjadi secara alamiah, yang disebabkan oleh kekeringan di Brasil utara.

Kajian tersebut mengungkap fakta bahwa peningkatan jumlah kebakaran pada musim kemarau dibahtah oleh kajian tersebut. Pasalnya penelitian tersebut menyebut jika kekeringan tahun ini lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Baca Lainnya : Brasil Tolak Bantuan Dana dari G7 untuk Tangani Kebakaran Hutan Amazon

"10 kotamadya Amazon yang melaporkan paling banyak kebakaran adalah juga tempat dengan tingkat deforestasi tertinggi. Di daerah ini terjadi 37 persen kejadian kebakaran di tahun 2019 sementara 43 persen deforestasi dilaporkan sampai Juli. Terpusatnya kebakaran hutan di daerah yang baru saja kehilangan hutan dengan kekeringan ringan menjadi indikasi kuat sifat kebakaran, yaitu pembersihan daerah yang hutannya baru saja dibabat," demikian isi kajian tersebut seperti dilaporkan BBC, dari Inews, Kamis (29/8/19).

Kotamadya yang dimasukkan para peneliti terkait dengan kejadian kebakaran adalah: Apui, Labrea and New Aripuana di negara bagian Amazon; Altamira, Itaituba, Sao Felix do Xingu, dan Novo Progresso di negara bagian Para; Colniza di negara bagian Mato Grosso; Porto Velho di negara bagian Rondonia; dan Caracarai di negara bagian Roraima.

IPAM menjadi sebuah lembaga yang bermarkas di ibu kota Brasilia. Penulis kajian adalah peneliti Divino Silverio, Ane Alencar dan Paulo Moutinho (IPAM) dan Sonaira Silva (Federal University Acre). Para peneliti menggunakan tiga sumber data independen.

Baca Lainnya : Brasil Kerahkan Pesawat Tempur Tangani Kebakaran Hutan Amazon

Informasi terkait deforestasi didapat dari Sistem Waspada Deforestasi (SAD) Imazon Institute; data kebakaran (atau "titik api", istilah teknisnya) berasal dari satelit AQUA (satelit acuan Badan Nasional Penelitian Angkasa Luar/INPE) dan jumlah hari tanpa hujan secara berturut-turut dari data CHIRPS yang dikembangkan Suirvei Geologi AS/US Geological Survey (USGS) dan University of California Santa Barbara.

Survei menggunakan data deforestasi dari Januari ke Juli 2019 dan kejadian kebakaran yang tercatat mulai dari permulaan tahun sampai 14 Agustus.

Di Para, kotamadya yang termasuk dalam daftar, seperti Novo Progresso, para petaninya dilaporkan memperingati "hari kebakaran" pada 10 Agustus dalam bentuk unjuk rasa dan untuk membersihkan padang rumput.

"Amazon lebih banyak terbakar pada 2019 dan tidak hanya musim kering yang dapat menjelaskan peningkatan ini, musim kering tahun ini tidak separah tahun-tahun lalu. (Tapi) sampai 14 Agustus, terjadi 32.728 kebakaran, 60 persen lebih tinggi dari pada rata-rata tiga tahun terakhir untuk periode yang sama," isi kajian tersebut.

Baca Lainnya : 44.000 Militer Brasil Dikerahkan Padamkan Kebakaran Hutan Amazon

Pada Minggu (25/8/19), lewat Twitter, Menteri Lingkungan Ricardo Salles mengatakan peningkatan kebakaran disebabkan iklim.

"Cuaca kering, angin dan panas meningkatkan kebakaran di seluruh negeri," katanya.

Menurut peneliti Luis Fernando Guedes Pinto dari Imaflora Institute, informasi yang ada terkait dengan kebakaran memperlihatkan ini adalah bagian dari proses pertikaian lahan di kawasan Amazon.

"Kebakaran ini adalah bagian dari masalah sengketa lahan. Ini adalah gerakan untuk membersihkan dan menduduki lahan, bukannya untuk meningkatkan produksi. Tujuannya adalah menduduki, dengan harapan pemilikan tanah akan diberikan secara resmi kemudian," ujar dia.

Menurut Luis Fernando, pernyataan sebelumnya dari para pemimpin -seperti Jair Bolsonaro sendiri dan Gubernur Acre Gladson Cameli- kemungkinan mengisyaratkan pengurangan hukuman perusak hutan. Baginya, dua hal ini berkaitan.

"Kebakaran ini terjadi pada keadaan di mana pemerintah federal dan para pejabat pemerintah mengatakan tidak akan ada langkah penegakan atau penghukuman," katanya.

Baca Lainnya : Sekjen PBB: Kebakaran Hutan Amazon Rusak Keanekaragaman Hayati

Berdasarkan perkiraan ahli iklim, Carlos Nobre, hubungan antara deforestasi dan kebakaran sudah diduga sebelumnya. Biasanya, pihak yang ingin "membersihkan" hutan, pertama-tama membersihkan pohon dan setelah beberapa bulan, membakar lahan tersebut.

"Dinamikanya seperti ini: pembersihan hutan, tunggu beberapa bulan agar mengering dan kemudian membakarnya. Jika Anda membakar pada keesokan harinya, (pohon) tidak akan terbakar karena tanamannya basah," katanya.

"Perlu menunggu beberapa bulan dan kemudian terbakar. Dan selalu, setiap tahun, Agustus dan September adalah bulan-bulan dengan kejadian kebakaran tertinggi," tuturnya, kepada BBC News Brasil.

Noble salah seorang doktor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang juga seorang ahli iklim mengungkapkan, data akhir deforestasi akan diperoleh dari sistem Prodes INPE, yang baru akan diungkapkan pada Oktober. Noble mengakui bahwa data yang digunakan kajian IPAM "adalah salah satu yang terbaik di dunia" terkait dengan pengukuran kebakaran dan peringatan deforestasi. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Jagung Provit Alternatif Bahan Pangan Sehat

Inovasi   28 Sep 2020 - 20:52 WIB
Bagikan: