Menteri LHK Masih Periksa 1380 Kontainer Impor Diduga Bercampur Sampah dan Limbah

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
28 Agu 2019   12:30

Komentar
Menteri LHK Masih Periksa 1380 Kontainer Impor Diduga Bercampur Sampah dan Limbah

Menteri  LHK, Siti Nurbaya Bakar memberikan keterangan kepada wartawan usai mengikuti Rapat Terbatas tentang Sampah dan Limbah Impor, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat (Jabar), Selasa (27/8/2019). (Foto : Seskab)

Trubus.id -- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberikan arahan yang tegas terkait impor sampah dan limbah yang beberapa saat terakhir membanjiri Indonesia. Meskipun sebagian dibutuhkan sebagai bahan baku industri. 

“Pak Presiden bilang lebih penting adalah kita menjaga melindungi kehidupan rakyat kita. Jadi kalau kita mau tolerir berapa-berapa tidak ada toleransi,” kata Menteri Siti usai  mengikuti Rapat Terbatas tentang Sampah dan Limbah Impor, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat (Jabar), Selasa (27/8/2019) kemarin.

Baca Lainnya : Rapat Terbatas, Jokowi Sampaikan Tiga Poin Pengendalian Impor Sampah dan Limbah

Menteri Siti  mengungkapkan, sudah lebih dari 400 kontainer sampah dan limbah yang direekspor, dan masih ada antara 1262 – 1380 kontainer yang harus diperiksa. Kalau hasil pemeriksaan menunjukkan tidak benar, artinya  ada tumpangan limbah dan sampah, harus di reekspor.

“Musti dilihat ya, persoalannya bukan kita tidak mau impor scrap plastik atau scrap kertas. Persoalannya adalah scrap plastik dan scrap kertas ini ditumpangi oleh sampah dan limbah. Macam-macam sampahnya ada bekas infus, ada Pampers, ada bekas ampul suntik obat sampai aki bekas dan lain-lain,” ungkap Menteri LHK.

Impor scrap yang ditumpangi itu,  lanjut Menteri LHK, datangnya dari negara maju gitu, Ada dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, Jerman, Hongkong dan lain-lain. Untuk itu, Menteri LHK berjanji akan berkonsultasi dengan Menteri Luar Negeri (Menlu).

Menteri LHK Siti Nurbaya juga mengungkapkan saat ini sedang  menyelesaikan arahan teknisnya seperti memperbaiki sistem pemeriksaannya, sistem survei nya di lapangan, di negara asal dan di sumbernya jangan di pelabuhan. Kemudian juga didorong untuk pemanfaatan bahan baku dalam negeri.

“Jadi memang apa ya paradoksi antara kebutuhan bahan baku dan kita menjaga lingkungan ataupun hal-hal yang terkait dengan di masyarakat itu tadi kita coba selesaikan,” terang Menteri LHK.

Baca Lainnya : Kebutuhan Bahan Baku Plastik Indonesia Sebanyak 7,2 Juta Ton per Tahun

Mengenai pengaturan selanjutnya, Menteri LHK mengatakan, kalau impor bahan baku untuk industri harus homogen, bahan baku zero tolerance terlebih bukan bahan berbahaya beracun. Ia meminta agar kandungan yang di-mix-kan atau facing down maksimal 2-2,5 spersen dalam waktu dua tahun.

 “Ini akan dibahas di tingkat eselon satu, jadi secara teknis, tetapi intinya bahwa untuk scrap-nya, bahan bakunya, homogeneity berarti ketidalhomogenanya inpureritis-nya seperti itu tadi 2-2,5 persen

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: