Kementan dan FAO Petakan Kapasitas Epidemiologi dan Surveilans di Indonesia

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
25 Agu 2019   11:00

Komentar
Kementan dan FAO Petakan Kapasitas Epidemiologi dan Surveilans di Indonesia

Dirjen PKH Kementan I Ketut Diarmita (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Indonesia merupkan salah satu negara yang rentan terhadap penyakit hewan yang dapat menular pada manusia (zoonosis) dan Penyakit Infeksi Baru/Berulang (PIB). Untuk itu Indonesia telah berupaya memperkuat kapasitasnya dalam mencegah, mendeteksi, dan mengendalikan penyakit hewan.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita pada saat menerima tim ahli dari Badan Pangan dan Pertanian (FAO) Pusat dan juga FAO Regional Asia Pacific dalam rangka pemetaan dan evaluasi kapasitas kesehatan hewan Indonesia, khususnya untuk bidang epidemiologi dan surveilans penyakit hewan, baru-baru ini di Jakarta.

Ketut mengatakan, saat ini Indonesia menghadapi ancaman masuknya penyakit African Swine Fever (ASF) yang sudah mewabah di China, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Informasi terakhir, diduga ASF ini juga terjadi di Philippina, sehingga semua pihak harus waspada dan bersiap menghadapi ancaman ini.

Baca Lainnya : Tingkatkan Produksi Pangan, Kementan Terus Dorong Lahan Rawa

Dirinya menambahkan bahwa ancaman ASF ini bukan menjadi masalah di jajaran Ditjen PKH saja, namun harus menjadi perhatian juga bagi para pemangku kepentingan lain seperti Karantina Hewan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang semakin erat antara Ditjen PKH, Badan Karantina Pertanian, dan instansi terkait lain dalam hal pencegahan PIB khususnya ASF dengan menyepakati SOP dan teknis berbagi informasi dan pelaporan.

Terkait ancaman ASF ini, Ketut berpesan agar pengawasan di pintu-pintu pemasukan diperkuat, khususnya di wilayah-wilayah daerah pariwisata dengan penerbangan internasional langsung seperti Bali dan Manado yang juga memiliki populasi babi yang banyak, peningkatan surveilans terpadu berbasis risiko dan kemampuan untuk deteksi kasus, perbaikan biosekuriti peternakan, serta bagi masyarakat agar segera melaporkan kepada pemerintah apabila ada perubahan pola/peningkatan kematian babi pada wilayah/peternakannya.

Lanjut Ketut menjelaskan bahwa saat ini selain ancaman PIB seperti ASF, Indonesia juga harus mewaspadai ancaman kasus penyakit-penyakit yang ada di Indonesia seperti Rabies, Avian Influenza, Brucellosis, Anthraks, bahkan penyakit seperti Japanese Encephalitis dan Malaria. Kegiatan surveilans terpadu, penguatan biosekuriti, dan pengawasan lalu lintas mutlak diperlukan dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan mengendalikan penyakit-penyakit tersebut.

Baca Lainnya : Permudah Perizinan, Kementan Tingkatkan Investasi dan Ekspor Obat Hewan

"Diperlukan kewaspadaan bersama lintas instansi/kementerian/lembaga terkait ancaman-ancaman penyakit ini. Upaya peningkatan kapasitas yang sudah dilakukan diharapkan mampu mengurangi risiko dampak negatif kasus,"demikian dikatakan Ketut melalui siaran pers yang diterima Trubus.id, Minggu (25/8/19).

Sementara itu, Tim Leader FAO Emergency Center for Transboundary Animal Disease (ECTAD) Indonesia, James McGrane menyampaikan bahwa FAO ECTAD selalu mendukung upaya Kementan dalam mengembangkan kapasitas untuk mencegah, mendeteksi dan mengendalikan zoonosis dan PIB ini melalui berbagai program kerjasama dari tahun 2006.

Menurutnya sudah banyak kemajuan dan peningkatan kapasitas-kapasitas tersebut, serta melihat adanya kesempatan yang baik untuk memetakan dan mengevaluasi kemajuan kapasitas epidemologi dan surveilans yang telah ada di Indonesia.

Kachen Wongsathapornchai, salah satu anggota tim ahli dari FAO menjelaskan bahwa evaluasi akan dilakukan oleh tim gabungan FAO dan Ditjen PKH, Kementan untuk memberikan rekomendasi dan panduan yang dapat digunakan untuk memperkuat kapasitas negara dalam mencegah, mendeteksi, dan mengendalikan zoonosis dan PIB.

Baca Lainnya : Sekjen Kementan: Meski Anggaran Turun, Kinerja Sektor Pertanian Justru Melesat

Kachen juga mengungkapkan bahwa untuk evaluasi kapasitas ini, tim menggunakan Alat Pemetaan Epidemiologi (EMT) dan Alat Evaluasi Surveilans (SET) sebagai perangkat yang dapat memberikan evaluasi secara mendalam terhadap kapasitas epidemiologi dan kapasitas surveilans penyakit hewan di Indonesia.

Melanjutkan penjelasan Kachen, James mengatakan implementasi EMT-SET secara serentak ini merupakan sebuah prestasi baru bagi Indonesia.

“Indonesia adalah negara pertama di Asia yang siap untuk melakukan penilaian kapasitas surveilans, dan juga termasuk negara pertama di dunia yang melaksanakan penilaian kapasitas epidemiologi dan surveilans secara serentak. Sesuatu yang baru untuk Indonesia,” ungkapnya. [NN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: