Peneliti LIPI Kembangkan Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati Indonesia

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
20 Agu 2019   18:00

Komentar
Peneliti LIPI Kembangkan Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati Indonesia

Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI Nina Artanti dalam konferensi pers Pengukuhan Profesor LIPI di Jakarta, Selasa (20/8/19) (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keanekaragam hayati yang sangat melimpah. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan biodiversitasnya yang paling banyak di dunia dan berada diurutan ke-17 dunia. Keanekaragaman hayati Indonesia menduduki urutan kedua dunia setelah Brazil, dan urutan pertama jika biota laut juga turut diperhitungkan. Meski begitu, program konservasi dirasa belum optimal menggali sumber keanekaragaman hayati yang ada di nusantara.

Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nina Artanti mengatakan, bahwa berbagai masalah yang menjadi terkait konservasi keanearagaman hayati Indonesia salah satunya yakni pembalakan liar, alih fungsi lahan, dan kebakaran hutan menjadi beberapa faktor kendalanya.

Bahkan sebuah penelitian menyebutkan, Indonesia telah kehilangan 6,02 juta hektare hutan dalam kurun waktu 2000 sampai 2012 dengan tingkat deforestasi tahunan mencapai 0,82 juta hektare per tahun pada 2012 lalu. Oleh karena itu, Nina menegaskan bahwa hal tersebut perlu dicegah dengan menunjukkan potensi nyata dari berbagai keanekaragaman hayati Indonesia dengan cara memanfaatkan keanekaragaman hayati menjadi obat.

Baca Lainnya : Kembalikan Fungsi Habitat Biota Air, LIPI Revitalisasi Danau Tempe

“Banyak senyawa aktif dari sumber daya hayati Indonesia yang berpotensi menjadi obat antikanker dan antimalaria,” kata Nina dalam Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Kantor Pusat LIPI, Jakarta, Selasa (20/8).

Lebih lanjut Nina menjelaskan, bahwa sebanyak 30.000 spesies tumbuhan yang ada di Indonesia, 9.600 spesies diantaranya merupakan tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal/tradisional. Meski begitu, dirinya tak menampik jika baru 300 spesies saja yang dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal.

Dirinya juga menyayangkan bahwa sampai saat ini sebagain besar bahan baku obat tradisional masih tergantung pada impor dari luar negeri. Dirinya menekankan bahwa hampir 90 persen bahan baku obat di industri farmasi merupakan produk impor. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian pada 2016, Indonesia mengimpor bahan baku obat terbanyak dari China, India, dan kawasan Eropa.

“Lebih dari 8.000 produk telah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan sebagai jamu tetapi baru ada sekitar 60 produk obat herbal terstandar dan 21 produk fitofarmaka," pungkasnya. [NN]

 

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


jesica oktavia 20 Agu 2019 - 18:54

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: