LIPI Kukuhkan Empat Peneliti Jadi Profesor Riset 

TrubusNews
Astri Sofyanti
20 Agu 2019   14:00 WIB

Komentar
LIPI Kukuhkan Empat Peneliti Jadi Profesor Riset 

LIPI Kukuhkan Empat Profesor Riset, di Kantor Pusat LIPI, Selasa (20/8/19) (Foto : Astri Sofyanti/ trubus.id)

Trubus.id -- Empat peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meraih gelar kepakaran Profesor Riset. Majelis Pengukuhan Profesor Riset LIPI mengukuhkan empat Profesor Riset. Empat peneliti yang dikukuhkan tersebut meliputi Dr. Ir. Nina Artanti, M. Sc, Dr. Jamilah, M. Si, Dr. Anny Sulaswatty, M. Eng (ketiganya adalah peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI) dan Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI. Orasi Pengukuhan Profesor Riset dilakukan di Auditorium LIPI, Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (20/8).

"Hari ini telah dikukuhkan empat orang Profesor Riset. Keempat peneliti yang akan dikukuhkan sebagai profesor riset masing-masing berasal dari bidang keilmuan kimia organik, biokima, teknik kimia dan teknik lingkungan," demikian disampaikan Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam sambutannya pada Pengukuhan Profesor Riset di Kantor Pusat LIPI, Gatot Subroto, Jakarta, Selasa, (20/8).

Orasi pertaman dengan judul “Penerapan Teknologi Non-Konvensional dalam Ekstraksi Komponen Utama Atsiri dan Produk Turunannya di Indonesia”, Anny Sulaswatty mengungkapkan pentingnya memperluas penerapan penelitian fraksinasi, pemurnian, serta perbaikan teknologi ekstraksi untuk meningkatkan nilai jual produk minyak atsiri.

Baca Lainnya : Canggih, LIPI Ciptakan Identifikasi Kayu Berbasis Smartphone

“Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri Indonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, food additives, serta perasa makanan,” kata Anny dalam orasinya.

Dirinya menjelaskan, pemanfaatan teknologi non-konvensional perlu diimplementasikan melalui kerjasama dengan industri, salah satunya telah dilakukan pengembangan green-additives berbasis turunan minyak atsiri yang dapat menurunkan kadar air dalam solar hingga 15 persen dan menghemat bahan bakar hingga 8 persen.

Sementara Ignasius Dwi Atmana Sutapa lewat orasi “Pengembangan Instalasi Pengolahan Air Gambut (IPAG60) sebagai Sarana Pemenuhan Hak Dasar Masyarakat Atas Air di Daerah Gambut” mengungkapkan ketiadaan sumber air bersih serta kurangnya pengetahuan mengenai dampaknya terhadap kesehatan, memaksa masyarakat yang tinggal di wilayah gambut menggunakan air gambut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Lainnya : LIPI Proyeksikan Defisit Air Pulau Jawa Terus Meningkat Hingga 2070, Bagaimana Solusinya?

“IPAG60 menjadi alternatif teknologi untuk mengolah air gambut menjadi air bersih atau minum yang memenuhi standar kesehatan,” jelasnya.

IPAG60, diakui Ignasisus, dapat mengolah berbagai jenis air gambut menjadi air bersih. “Hasil uji terhadap kualitas air menunjukkan bahwa air produksi IPAG60 memenuhi standard air golongan A,” papar Ignasius.

Sementara orasi dari Jamilah adalah “Penemuan Senyawa Aktif Baru dari Calophyllum spp sebagai Bahan Baku Obat Antikanker dan Antimalaria. Dirinya menjelaskan, kanker merupakan penyebab kematian dan kejangkitan yang terbesar di dunia dibandingkan penyakit lain dan jumlahnya meningkat hingga 70% dalam dua dekade.

“Sementara malaria adalah penyakit infeksi yang mematikan nomor lima setelah penyakit infeksi saluran nafas, HIV/AIDS, diare, dan TBC,” terangnya.

Dirinya mengungkapkan, tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai sumber bahan baku obat kanker dan malaria.

Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen, dan steroid yang memiliki aktivitas antiimflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antiplatelet, antitumor, antimalaria dan antibakteri serta antiTBC,” jelas Jamilah.

Baca Lainnya : Karya Peneliti LIPI Ini Gubah Tandan Kosong Sawit Jadi Bahan Bakar, Simak Prosesnya

Pihaknya menjelaskan, peluang Calophyllum untuk pengembangan obat antikanker dan antimalaria sebagai pengganti obat impor masih terbuka lebar.

Sementara itu dalam orasi berjudul “Peran Uji Bioaktivitas untuk Penelitian Herbal dan Bahan Aktif untuk Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati”. Nina Artanti mengungkapkan pengalaman historis manusia dengan tumbuhan sebagai bahan terapi telah membantu memperkenalkan senyawa kimia tunggal dalam pengobatan modern yang ada sekarang.

“Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal atau pun dalam penemuan dan pengembangan obat. Ada berbagai macam uji bioaktivitas yang dapat dimanfaatkan yaitu bioaktivitas antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri,” ungkap Nina. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Kemenkeu Segera Bekukan Aliran Dana Desa Mal-administrasi

Peristiwa   20 Nov 2019 - 08:45 WIB
Bagikan:          

Ini Syarat Pencairan Dana Desa

Peristiwa   20 Nov 2019 - 09:06 WIB
Bagikan: