Jokowi Sebut Jumlah Penduduk Miskin Februari 2019 Terendah Sepanjang Sejarah

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
19 Agu 2019   08:00

Komentar
Jokowi Sebut Jumlah Penduduk Miskin Februari  2019 Terendah Sepanjang  Sejarah

Presiden Jokowi menyampaikan Keterangan Pemerintah Atas RAPBN 2020 beserta Nota Keuangannya, di depan Sidang Paripurna DPR RI, di Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019) (Foto : Seskab)

Trubus.id -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, angka pengangguran, menurun dari 5,81% pada Februari 2015, menjadi 5,01% pada Februari 2019. Sementara penduduk miskin terus menurun dari 11,22% pada Maret 2015, menjadi 9,41% pada Maret 2019. 

“Ini terendah dalam sejarah NKRI,” ujar Jokowi saat menyampaikan Keterangan Pemerintah Atas RUU tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 beserta Nota Keuangannya, di depan Sidang Paripurna DPR RI, di Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019) lalu.

Jokowi menjelaskan ketimpangan pendapatan juga terus menurun, ditunjukkan dengan semakin rendahnya Rasio Gini dari 0,408 pada Maret 2015, menjadi 0,382 pada Maret 2019. Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 69,55 di 2015, menjadi 71,39 di 2018, atau masuk dalam status tinggi.

 Selain itu, tidak ada lagi provinsi dengan tingkat IPM yang rendah.

“Logistic Performance Index (LPI) naik dari peringkat 53 dunia di 2014, menjadi peringkat 46 dunia di 2018. Dalam Global Competitiveness Index, kualitas infrastruktur kita termasuk listrik dan air meningkat, dari peringkat 81 dunia pada 2015, keperingka 71 dunia pada 2018,” ungkap Jokowi.

Baca Lainnya : Jokowi: Ibu Kota Baru untuk Pacu Pemerataan dan Keadilan di Luar Pulau Jawa

Berbagai capaian tersebut, menurut Jokowi, tidak terlepas dari reformasi fiskal yang telah Dilakukan. Pemerintah Indonesia tidak lagi menggunakan pola money follows function, tetapi money follows program.

“Kita tidak lagi berorientasi pada proses dan output, tetapi pada impact dan outcome. Kita terus mengelola fiskal agar lebih sehat, lebih adil, dan menopang kemandirian kita,” ujar  Jokowi.

Tetapi, Jokowi mengingatkan, tantangan ekonomi ke depan semakin berat dan semakin kompleks, ekonomi dunia sedang mengalami ketidakpastian. Beberapa emerging market sedang mengalami krisis, dan beberapa negara sedang mengalami pertumbuhan negatif.

Tetapi, pertumbuhan ekonomi Indonesia trennya meningkat dari 4,88% ditahun 2015, menjadi 5,17% di tahun 2018, dan terakhir Semester I-2019 mencapai 5,06%.

Selain itu, Indonesia harus waspada menghadapi tantangan perang dagang, dan depresiasi nilai mata uang beberapa negara seperti Yuan-Tiongkok dan Peso-Argentina.

Saat negara-negara lain ekonominya melambat,Kepala negara berharap ekonomi kita harus mampu tumbuh. Situasi krisis harus kita balik sebagai peluang.

“Oleh sebab itu kita harus jeli. Kita manfaatkan kesulitan sebagai kekuatan untuk bangkit, untuk tumbuh, untuk Indonesia Maju,” tuturnya.

Salah satu kuncinya, menurut Presiden, adalah dengan terus meningkatkan daya saing nasional, dengan bertumpu pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ia menegaskan, SDM yang berkualitas merupakan modal penting memasuki era ekonomi berbasis digital.

Baca Lainnya : Pemerintah Anggarkan Rp858,8 Triliun untuk Transfer ke Daerah dan Dana Desa Tahun 2020

Jokowi melanjutkan, bahwa berbagai program pembangunan SDM disiapkan pemerintah untuk memastikan bonus demografi menjadi bonus lompatan kemajuan. Kita bangun generasi bertalenta yang berkarakter dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Indonesia memiliki modal awal untuk bersaing di tingkat global. Jumlah penduduk kita nomor empat terbesar di dunia. Sebagian besar penduduk kita berusia muda. Kelas menengah kita tumbuh dengan pesat. Saya yakin dengan fokus pada peningkatan kualitas SDM, Indonesia dapat segera mewujudkan visinya menjadi negara maju,” ucap Presiden Jokowi. 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: