Sebar Teknik Agroforestry, Petani Ini Tuai Panen di Lahan Gambut Tanpa Membakar

TrubusNews
Binsar Marulitua
17 Agu 2019   16:00 WIB

Komentar
Sebar Teknik Agroforestry, Petani Ini Tuai Panen di Lahan Gambut Tanpa Membakar

Akhmad Tamanruddin seorang inspirasi petani yang sukses dalam mengolah lahan gambut tanpa membakar. Teknik yang dipelajarinya dari karakteristik gambut, disebarkan kepada 1.000 petani dari Kalimantan Tengah. (Foto : BNPB)

Trubus.id -- Akhmad Tamanruddin adalah seorang inspirasi petani yang sukses dalam mengolah lahan gambut tanpa membakar. Kemampuan membuat media tanam mineral dressing, ia dapatkan sejak mendapatkan pendampingan dari Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Banjarbaru, Kalimantan Tengah sejak 2004 lalu. 

“Lahan yang di sana lebih rendah dibandingkan di sini (lahan miliknya),apabila membakar gambut justru permukaan gambut itu akan turun dan akhirnya menjadi rawa," ucap pria yang akrab disapa Pak Taman, sambil menunjuk lahan tetangga di sebelah yang sedang digarap pada Jumat (16/8/2019) di Kalampangan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. 

Pak Taman menjelaskan penyiapan lahan dengan bakar itu merugikan karena menyebabkan penurunan permukaan gambut dan membunuh jutaan mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. 

Lahan gambut digarapnya memiliki luas 2 hektare. Terlihat tinggi, tertata rapi, dan tampak beragam tanaman karena media mineral dressing  yang dikelola terdiri  atas tanah subur, dolomit, dan kotoran ternak, selain itu juga digunakan pupuk organik.

Baca Lainnya : KLHK Segel 18 Lahan Konsesi Milik Perusahaan, Total Karhutla Capai 135.747 Hektare

Dirinya pun tak sungkan membeberkan kiat pengetahuan dan pengalaman tersebut. Salah satu teknik yang dia pelajari yaitu menggunakan dolomit, tanah subur dan kotoran hewan yang dibutuhkan untuk menunjang kesuburan tanaman atau media tanam. 

Upaya itu dimaksudkan untuk mengalahkan sifat asam gambut dan kemudian dia berhasil dengan pendekatan agroforestry seperti sekarang ini. 

Ia kembali memebeberkan, pertama cara  mengolah lahan gambut tanpa bakar adalah dengan tahapan lahan gambut yang sudah bersih dari akar pakis (kalakai) dibuat guludan (baluran) yang lebarnya maksimal sedepa, agar guludan dapat dibersihkan dari kedua sisi.

"Selanjutnya, buat lubang tanam dengan jarak menyesuaikan kebutuhan tanaman yang akan ditanam, misal untuk cabai 40 x 40 cm." ujarnya. 

Tahap berikutnya, ke dalam lubang tanam diberi media tanam yang sebelumnya sudah kita siapkan sebanyak satu genggam per lubang tanam. 

Perawatan guludan dilakukan dengan mengembalikan tanah guludan yang sempat terbawa air sehingga berada pada bagian bawah guludan, dikembalikan ke atas.

Apa yang dihasilkan saat ini dipetiknya melalui jerih payah dan keuletannya sebagai transmigran yang tiba di Kalimantan Tengah pada 1980 lalu.

Keberhasilanya dalam memulihkan dan menjaga gambut bukan tanpa tantangan. Sejak memutuskan meninggalkan kampung halamannya untuk bertransmigrasi di Kalimantan Tengah pada 1980 lalu, rasa putus asa kerap menjadi batu sandungan.

Terlebih, ia tidak bisa berbuat banyak ketika sebagian transmigran lainnya memilih untuk kembali ke Jawa karena sulit untuk mengolah lahan gambut. Bersisian dengan itu, keterebatasan pengetahuan dan sejumlah kendala membuat warga lainnya tak punya banyak pilihan untuk tetap membakar lahan gambut demi menyuburkan tanah.

Kini, Teknik yang dipelajarinya dari karakteristik gambut, disebarkan kepada 1.000 petani Kalimantan Tengah dan wilayah lain telah belajar darinya.

Peneliti Marinus Kristiadi Harun menyampaikan bahwa pendekatan agroforestry yang dikelola PakTaman ini memanfaatkan tanaman keras seperti Jelutung Rawa (Dyera pollyphylla) serta tanaman pertanian, seperti cabai, jagung dan ubi kayu. 

"Lahan gambut di milik Pak Taman secara teori termasuk kawasan kubah gambut, namun terlanjur dijadikan sebagai lahan pertanian intensif," kata Marinus.

Oleh karena itu, sistem agroforestry menjadi salah satu sistem budidaya yang dipromosikan oleh Balai Litbang LHK Banjarbaru sebagai sistem yang ramah lingkungan. Sistem ini mampu menjembatani fungsi produksi dan fungsi perlindungan (konservasi) di lahan gambut.

Baca Lainnya : KLHK Segel 18 Perusahaan Terkait Karhutla, Lahan Terbakar Capai 2.209 Hektare

“Sesuai dengan prinsip kelestarian, sesuatu bisa lestari berkelanjutan apabila ada keseimbangan antara aspek ekonomi, aspek sosial dan aspek ekologi atau lingkungan,” ujar Peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Banjarbaru ini. 

Balai Litbang LHK Banjarbaru juga mengembangkan beberapa sistem pertanian tanpa bakar, seperti pembuatan bahan organik lahan dengan gulma lahan dan semak belukar.

Menurutnya, bahan organik tersebut dapat diolah menjadi barang bernilai ekonomi. Marinus mencontohkan produk itu dengan media tanam, pupuk hayati, kompos blok, dan pelet energi. Pupuk tersebut telah dikembangkan di Tumbang Nusa dan pelet di Sebangau Mulya, Kalimantan Tengah.

Berbeda dengan Taman yang mengembangkan agroforestry, Roudhatul Jannah bersama suami melakukan pendekatan agrosilvofishery di lahan gambut. Tampak di lahan seluas 500 m2, beberapa jenis tanaman yang ditanam berdekatan dengan kolam ikan. Dalam kolam ikan, Roudhatul beternak jenis ikan gabus, sepat dan gurami. 

Ikan yang dipeliharanya tidak hanya untuk dikonsumsi namun limbah dimanfaatkan sebagai pupuk. Air kolam yang sudah tercampuk dengan limbah ikan tadi kemudian disalurkan menuju bak yang setiap saat digunakan sebagai pupuk organik tanaman yang telah disiapkan pada guludan. 

Hasil akhirnya tanaman dapat tumbuh subur dan dapat dipanen dengan nilai ekonomi tinggi. Hasil panen seperti seledri, selada, dan segau, tanaman khas Kalimantan Tengah, mampu menghidupi keluarga tanpa harus membuka lahan dengan cara membakar. 
 

  14


500 Karakter

Artikel Terkait

Upaya Outreach Sawit Indonesia Berkelanjutan di Slowakia

Peristiwa   16 Des 2019 - 09:20 WIB
Bagikan:          
Bagikan: