LIPI Luncurkan Film Dokumenter Ekspedisi Nusa Manggala Kisah 8 Pulau

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
14 Agu 2019   16:49

Komentar
LIPI Luncurkan Film Dokumenter Ekspedisi Nusa Manggala Kisah 8 Pulau

Peluncuran Film Dokumenter Ekspedisi Nusa Manggala Kisah 8 Pulau di Pasific Place, Jakarta, Rabu (14/8/19) (Foto : Astri Sofyanti/ trubus.id)

Trubus.id -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa keberadaan pulau terluar memiliki peran yang sangat penting. Selain menyediakan ekosistem alam yang produktif dan menunjang sektor pangan, perikanan dan wisata, keberadaannya merupakan penanda kedaulatan negara di beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengingat kawasan pulau-pulau tersebut merupakan bagian dari 111 pulau kecil terluar yang menjadi batas langsung dengan negara tetangga.

Minimnya informasi ilmiah tentang potensi sumber daya alam di kawasan ini mendorong Lembaga LIPI melakukan ekspedisi Nusa Manggala. Temuan serta dokumentasi dari ekspedisi yang berlangsung selama bulan Oktober sampai Desember 2018 lalu akan ditayangkan dalam film dokumenter berjudul ‘Kisah 8 Pulau Terluar’.

Pulau-pulau terluar yang menjadi tujuan ekspedisi ini adalah Yiew, Budd, Fani, Brass dan Fanildo, Liki, Bepondi, dan Meossu serta satu gugusan kepulauan Ayau di kawasan Raja Ampat, Papua.

“Ekspedisi Nusa Manggala merupakan salah satu bukti kehadiran negara di pulau-pulau terluar melalui aktivitas riset yang dilakukan LIPI,” terang Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, di Pasific Place, Jakarta, Rabu (14/8/19).

Lebih lanjut Laksana menjelaskan, pulau-pulau ini dipilih karena merupakan kawasan perbatasan laut Indonesia sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Kawasan Strategis Nasional.

Pada kesempatan yang sama Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin mengungkapkan bahwa Ekspedisi Nusa Manggala merupakan kegiatan penelitian untuk menggali data dan informasi sumber daya alam hayati dan non hayati di kawasan pesisir pulau-pulau kecil terluar (PPKT) Indonesia.

“Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi pandangan, konsep pengelolaan dan best practices pengelolaan sumber daya pesisir di pulau-pulau kecil terluar untuk memberikan rekomendasi pengelolaan pulau-pulau terluar yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta karakteristik sumber daya alamnya,” jelas Zainal.

Selama kurang lebih 60 hari, sekitar 55 peneliti Indonesia dari bidang ekologi, daya dukung lingkungan, sosial kemanusiaan serta geomorfologi turut andil dalam ekspedisi yang menjelajah lebih dari 6000 km perjalanan.

“Di Kepulauan Mapia tepatnya di pulau Brass-Fanildo terdapat salah satu attol yang terbesar di Indonesia dengan luasan area lebih dari 3000 hektare,” jelas Koordinator Ekspedisi Nusa Manggala, Dirhamsyah yang juga seorang peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Dirinya menjelaskan, attol tersebut menjadi habitat unik bagi beragam biota laut seperti karang hias Lobophyllia, Physogyra, dan Cynarina lacrimalis.

“Bahkan semua jenis kerang kima yang ada di Indonesia yang berjumlah tujuh jenis dapat ditemukan di kepulauan ini ditambah catatan sebaran baru kehadiran jenis di Indonesia yaitu Tridacna noae,” paparnya.

Lebih jauh ia menerangkan, keluaran dari Ekspedisi Nusa Manggala adalah daftar isu strategis terkait pengelolaan sumber daya pesisir di pulau-pulau kecil terluar yang tertuang dalam naskah kebijakan.

“Selain itu juga output dari penelitian juga berupa film dan buku mengenai kegiatan tersebut kepada pembuat kebijakan dan masyarakat,” tandas Dirhamsyah.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: