Gunakan Wadah Daging Kurban Non-Plastik Demi Kesehatan dan Kelestarian Lingkungan Hidup

TrubusNews
Hernawan Nugroho
09 Agu 2019   15:30 WIB

Komentar
Gunakan Wadah Daging Kurban Non-Plastik Demi Kesehatan dan Kelestarian Lingkungan Hidup

Warga Kecamatan Sumur, Bandung membagikan daging kurban dengan besek dan bongsang bambu alami (Foto : WartaBandung)

Trubus.id -- Hari Raya Idul Adha 2019 sudah semain dekat, di tengah gencarnya kampanye diet plastik. Penggunaan kantong plastik sebagai pembungkus daging kurban bisa membahayakan kesehatan. Untuk itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Suyana mengimbau panitia penyelenggara kurban menggunakan besek. Dalam pernyataan yang dikutip oleh Harian Jogja itu Suyana mengatakan setiap kantong plastik berwarna merupakan hasil dari daur ulang. Sementara riwayat daur ulang itu sendiri tidak pernah diketahui berasal dari limbah apa saja.

Menjadi berbahaya apabila sumber daur ulang itu dari wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan atau manusia, logam berat dan semacamnya.Tidak jelasnya sumber ini masih ditambah proses pengolahan dalam daur ulang yang menggunakan berbagai bahan kimia sehingga semakin membahayakan bagi kesehatan. 

Di sisi lain, penggunaan kantong plastik juga mengancam lingkungan. Khususnya pada pelaksanaan kurban mendatang, sebab penggunaan plastik dilakukan secara masif dan bisa dipastikan hanya sekali pakai, sementara proses penguraian membutuhkan waktu ribuan tahun. “Maka kami sarankan panitia tidak menggunakan plastik sekali pakai untuk pendistribusian daging kurban,” kata Suyana.

Baca Lainnya : Lumajang Imbau Penyebaran Daging Kurban Bebas Plastik

Sebagai alternatif, dia menyarankan beberapa opsi, yakni besek bambu, daun pisang, daun jati dan wadah makanan. Ia mengakui penggunaan benda-benda ini sebagai pengganti plastik jelas lebih tidak praktis. “Namun demi kesehatan dan lingkungan, saya rasa kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai tetap harus diubah,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, pelaksanaan Idul kurban di Jogja memang belum pernah tanpa kantong plastik. Meski tahun lalu sudah ada imbauan dari DLH Kota Jogja, tapi belum ada yang menerapkan. “Namun tahun ini kami mendapat laporan akan ada satu masjid yang tidak akan menggunakan kantong plastik, yakni Masjid Tamtama, Kecamatan Mergangsan. Ini jelas contoh yang bagus,” pungkasnya.

Gerakan pengurangan penggunaan wadah plastik sekali pakai sudah menjadi isu global. (Foto: YLKI)

Sementara itu, pada sebuah daerah di Bandung, Jawa Barat tahun ini adalah kedua kalinya menggunakan wadah non plastik. Demi 'diet plastik,' warga lingkungan Rukun Warga (RW) 07, Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, membagikan daging kurban dengan yang lebih cara ramah lingkungan yakni mengganti penggunaan kantong plastik dengan besek dan bongsang bambu alami.

"Tahun lalu ada 700 besek dan bongsang yang kita dapatkan dari daerah Cileunyi dan Dulatip," ujar Ketua RW 07 Herman Sukmana kepada Warta Bandung.

Herman menjelaskan, penggunaan wadah ini memang bertujuan untuk mengurangi sampah plastik yang tak bisa didaur oleh alam. Tak cuma itu, penggunaan wadah dari bambu ini dianggap juga lebih aman untuk kesehatan.

Baca Lainnya : Mau Berkurban? Hindari Membeli Sapi Pemakan Sampah

Sebenarnya, wadah bambu atau bongsang ini sudah cukup akrab di kalangan warga. Pasalnya, besek atau bongsang ini biasanya digunakan untuk mengemas tahu sumedang dan juga peyeum khas Bandung. Hanya saja baru 2 tahun ini bongsang dan besek dipakai untuk membungkus daging. "Sudah budaya kita dari turun temurun, hanya saja sekarang kalau kita lihat orang sering pakai kresek dan styrofoam. Dengan menggunakan besek ini kita juga ikut melestarikan budaya kita sendiri," ucapnya.

Hanya saja tak dipungkiri, Herman mengaku bahwa penggunaan besek dan bongsang dalam mendistribusikan daging kurban jauh lebih repot dan mahal dibanding memakai kantong plastik. Namun, kesadaran warga tentang pelestarian lingkungan menepiskan kendala tersebut. "Alhamdulillah, rencana tahun ini semua warga mau menyumbang beli besek dan bongsang untuk mengganti kresek," ujar Herman.

Besek dan bongsang lebih baik digunakan karena tidak lagi menghadirkan sampah, selaras dengan gaya hidup zero waste. Penggunaan keduanya juga diharapkan bisa bertahan lama karena bisa digunakan secara berulang-ulang. [NN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: