Padi Hibrida Dinilai Bisa Menjadi Solusi Peningkatan Beras Nasional

TrubusNews
Binsar Marulitua
07 Agu 2019   21:00 WIB

Komentar
Padi Hibrida Dinilai Bisa Menjadi Solusi Peningkatan Beras Nasional

ilustrasi petani merontokan gabah (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Krishnamurti mengungkapkan, padi jenis hibrida bisa menjadi solusi alternatif peningkatan produktivitas beras nasional. Tetapi, luas tanam padi hibrida mengalami stagnasi selama beberapa tahun. 

"Padi hibrida memiliki produktivitas musiman rata-rata 7 ton/ha, lebih tinggi kalau dibandingkan dengan produktivitas padi inbrida yang hanya mencapai 5,15 ton/ha," jelas Indra di Jakarta, Rabu (7/8/2019). 

Indra menerangkan, walaupun memiliki potensi besar, pengembangan padi hibrida di Tanah Air masih menemui banyak permasalahan. Misalnya mengenai sulitnya mengubah persepsi yang sudah terbangun di benak para petani mengenai lebih menguntungkannya menanam padi inbrida daripada padi hibrida. 

Baca Lainnya : Peneliti Nilai Intervensi Pemerintah pada Sektor Pangan Belum Efektif Stabilkan Harga

Permasalahan lainnya yang menjai kendala adalah produksi dan ketersediaan indukan dan benih hibrida yang rendah, kerentanan terhadap penyakit, rasa/tekstur nasi, tingginya harga benih, kebiasaan petani menggunakan benih sendiri dan kurangnya keterampilan petani. 

Karena tidak tersedianya benih hibrida, lanjut Indra, banyak petani terpaksa kembali menanam benih inbrida. Padahal,harga benih padi hibrida terbilang mahal, berkisar antara Rp 110.000-Rp 135.000, para petani tidak lantas menganggap harga sebagai kendala. 

“Ketika mereka percaya bahwa membelanjakan lebih banyak modal untuk saprotan akan memberikan pendapatan yang lebih tinggi, mereka bersedia melakukannya. Mereka bersedia membayar untuk benih padi hibrida premium jika mereka yakin akan memperoleh pendapatan lebih tinggi saat panen,” urainya.

Indra melanjutkan penjelasan, penggunaan padi hibrida diharapkan untuk mencapai tingkat luasan seperti di Cina (51% dari total luas tanam padi) dan Pakistan (25-30% dari total luas tanam padi), penting bagi sektor swasta untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mengembangkan dan mengkomersilkan varietas benih yang tepat. 

Untuk saat ini, impor masih tetap penting, bukan hanya untuk menyediakan benih dalam jumlah cukup, tetapi juga untuk menguji apakah varietas padi hibrida tertentu sesuai dengan kondisi lokal di Indonesia.

Begitu ada kapasitas yang cukup untuk mengembangkan varietas-varietas ini di Indonesia, ketergantungan pada impor akan berkurang secara alamiah.

“Hal ini sangat bergantung pada keahlian teknis yang tersedia di Indonesia. Pengembangan padi hibrida di Indonesia saat ini juga terkendala oleh rendahnya jumlah pakar yang mampu mengembangkan varietas baru. Agar impor benih dapat digantikan secara berkelanjutan, program pembangunan manusia perlu dilakukan secara bekerjasama dengan berbagai universitas. Pendirian pusat penelitian di berbagai daerah di Indonesia akan memungkinkan pengembangan varietas yang sesuai dengan preferensi konsumen tertentu serta iklim dan kondisi tanah di daerah-daerah yang berbeda,” ungkap Indra.

Baca Lainnya : Peneliti Nilai Pemerintah Perlu Dorong Petani Garam Penuhi Kebutuhan Industri

 Indonesia adalah salah satu konsumen beras terbanyak di dunia, dengan perkiraan tingkat konsumsi 97,6 kg per kapita per tahun pada tahun 2017. Dengan jumlah penduduk yang besar (264 juta jiwa pada tahun 2018) dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,27% per tahun (2018), Indonesia harus menyediakan cukup banyak beras untuk memastikan ketahanan pangan di masa depan.

Jumlah total beras yang dikonsumsi oleh orang Indonesia terus meningkat dan diproyeksikan akan meningkat 1,5% setiap tahunnya menjadi 99,08 kg per kapita per tahun pada tahun 2025. Jumlah ini diperkirakan akan kembali meningkat sebesar 2% per tahun menjadi 99,55 kg per kapita pada tahun 2045.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: