Temperatur Suhu Air Laut Naik, 60 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam

TrubusNews
Astri Sofyanti
02 Agu 2019   16:00 WIB

Komentar
Temperatur Suhu Air Laut Naik, 60 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam

Terumbu karang (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Gelombang panas yang memicu naiknya temperatur suhu air laut mengancam 60 persen terumbu karang dunia. Penelitian terbaru menunjukkan kedahsyatan gelombang panas terhadap terumbu karang di Samudra Hindia.

Seperti kita tahu, pada tahun 2015 dan 2016 belahan bumi bagian selatan terus menerus dilanda gelombang panas yang terjadi akibat badai El Nino. Gelombang panas ini menyebabkan kerusakan signifikan pada sejumlah ekosistem terumbu karang yang rawan di Samudera Hindia.

"Kita kehilangan hingga 50 persen dari seluruh terumbu karang yang ada, tiga tahun lalu tepatnya pada 2016. Hal ini terjadi terutama pada terumbu yang bercabang, dalam hal ini disebut acropora, misalnya," demikian disampaikan Leo Barret dari Marine Conservation Society Seychelles, seperti dikutip Associated Press, Jumat (2/8).

Baca Lainnya : Gelombang Panas Eropa Ancam Rekor Pencairan Es di Greenland

Sejumlah karang berbentuk Acropora itu merupakan bangunan dasar yang penting bagi terumbu karang.

Gelombang panas bahkan terjadi tanpa perubahan iklim, padahal terumbu karang biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Catherine Head dari Zoological Society of London menjelaskan, dengan adanya realitas baru perubahan iklim, gelombang panas datang lebih sering dan lebih menyengat.

"Jadi, ketika gelombang panas itu terjadi lebih sering seperti yang diperkirakan, maka terumbu-terumbu karang tidak akan punya kesempatan untuk pulih," paparnya.

Baca Lainnya : Gelombang Panas di Inggris Ganggu Jadwal Perjalanan Kereta dan Pesawat

Catherine menjadi bagian dari tim peneliti yang baru-baru ini mengukur kerusakan akibat beberapa gelombang panas berturut-turut di Samudra Hindia.

"Karang staghorn, misalnya yang lebih dikenal sebagai sejenis rumput liar, akan terkena dampak sangat parah. Jadi 86 persen karang Staghorn sebenarnya dipengaruhi oleh gelombang panas tersebut, sedangkan sebagian karang lainnya yang lebih kuat kurang terpengaruh," kata Cahterine.

Yang mengkhawatirkan adalah hilangnya karang-karang itu berarti kehilangan keanekaragaman di lautan secara signifikan.

"Jadi jenis ikan dan beragam invertebrata atau hewan tak bertulang belakang yang hidup di karang laut akan berkurang dan demikian juga kemungkinan kompleksitas struktural terumbu karang," ungkapnya.

Baca Lainnya : Pekan Ini Amerika Serikat Terancam Dihantam Gelombang Panas Ekstrem

"Jadi, sejumlah karang berkontribusi lebih banyak pada struktur kalsium karbonat daripada yang lain. Dan itulah yang menyebabkan struktur integral yang sangat kompleks dan sangat menarik," tambahnya lagi.

Meskipun sejumlah upaya dilakukan guna menghidupkan kembali terumbu yang sekarat, namun karang-karang itu perlahan-lahan menghilang. Saat ini, para ilmuwan mengemukakan dunia tidak melakukan apa yang diperlukan untuk mencegah kenaikan suhu laut yang dahsyat. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: