Lidah Mertua Tidak Efektif Menjawab Polusi Udara di Jakarta

TrubusNews
Thomas Aquinus
02 Agu 2019   11:00 WIB

Komentar
Lidah Mertua Tidak Efektif Menjawab Polusi Udara di Jakarta

Ilustrasi polusi udara Kota Jakarta (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dalam rangka mengatasi polusi, Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan berencana membagikan tanaman lidah mertua yang dinilai dapat mengatasi masalah polusi udara. Namun, sayangnya pakar tanaman hutan kota dan jasa lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) Endes N Dahlan menilai, lidah mertua berdaya rendah dalam menyerap emisi kendaraan bermotor.

"Lidah mertua yang tingginya kurang dari satu meter dan lebarnya cuma tiga sentimeter tidak efektif dalam menyerap polusi udara dibandingkan tumbuhan dan pepohonan yang tinggi," ujarnya.

Dikatakannya, setiap tumbuhan dapat menyerap gas buang kendaraan seperti karbon monooksida (CO), sulfur (Sox), hingga senyawa nitrogen oksida (Nox). Namun salah satu faktor yang penting yaitu tinggi dan banyaknya daun menentukan efektivitas penyerapan emisi gas buang kendaraan.

Baca Lainnya : Hati-Hati, Polusi Udara Jadi Sumber Berbagai Penyakit Mematikan

Menurutnya, pepohonan jenis trembesi, mahoni, beringin punya kemampuan lebih besar menyerap polusi udara ketimbang tanaman lidah mertua yang memiliki sedikit daun. "Semakin banyak daunnya, semakin lebar luasan permukaanya, semakin besar kapasitas daya serapnya," katanya.

Selain itu, pohon juga harus ditanam di jalur yang memiliki tingkat polusi tinggi.

"Lebih bagus, di kanan kiri jalan atau di trotoar pembatas jalan turut ditanam pohon juga. Sehingga sebelum polusi itu merambah ke jalan raya diserap dulu oleh pepohonan, dan memberikan efek teduh," katanya.

Baca Lainnya : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Menyikapi Polusi Udara di Jakarta

Endes menilai, menanam pohon dan memperbanyak taman kota inilah yang membuat Surabaya kini menjadi adem berkat upaya Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Karena, semakin banyak kendaraan harus selaras dengan banyaknya penanaman pohon guna menyerap polusi.

"(Penyebab) polusi udara kan, jadi lomba-lomba jumlah kendaraan. Saya rasa kalau industri kecil sekali (pengaruhnya) di Jakarta sama Surabaya, tapi yang banyak itu dari kendaraan. Nah itu harus diimbangi (dengan pohon)," ujarnya. [NN]

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Tiga Desa di Kota Batu Terdampak Angin Kencang

Peristiwa   17 Nov 2019 - 17:06 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: