Hati-Hati, Polusi Udara Jadi Sumber Berbagai Penyakit Mematikan

TrubusNews
Astri Sofyanti
31 Juli 2019   15:30 WIB

Komentar
Hati-Hati, Polusi Udara Jadi Sumber Berbagai Penyakit Mematikan

Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FAPSR, Dokter Spesialis Paru yang juga Ketua dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ketika menggelar Konferensi Pers Kanker Paru dan Polusi Udara di Kantor Pusat PDPI, Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (31/7/19). (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Tingkat polusi udara di kota-kota besar di Indonesia terutama DKI Jakarta terbilang cukup tinggi. salah satu pemicunya akibat padatnya kendaraan bermotor dan juga aktivitas industri. Polusi udara ini bisa bisa jadi sumber berbagai penyakit.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyatakan polusi udara berhubungan dengan penyakit paru dan pernapasan seperti infensi saluran pernapasan akut/ISPA, asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronik/PPOK, kanker paru, jantung hingga stroke.

Menurut World Health Organization (WHO) polusi udara di seluruh dunia berkontribusi 25 persen dari seluruh penyakit dan kematian akibat kanker paru, 17 persen seluruh penyakit dan kematian akibat ISPA, 16 persen seluruh kematian akibat stroke, 15 persen seluruh kematian akibat penyakit jantung iskemik dan 8 persen seluruh penyakit paru obstruktif kronik.

Baca Lainnya : Hati-Hati, Polusi Udara Jadi Sumber Berbagai Penyakit Mematikan

“Populasi yang rentan terhadap polusi udara adalah anak-anak, perempuan, lansia, para pekerja luar ruangan, dan juga seseorang yang rentan seperti penyintas penyakit paru dan jantung,” jelas Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FAPSR, Dokter Spesialis Paru yang juga Ketua dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ketika menggelar Konferensi Pers Kanker Paru dan Polusi Udara di Kantor Pusat PDPI, Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (31/7).

WHO bahkan menyatakan jika polusi udara berdampak pada anak-anak. Sebanyak 14 persen anak usia 5-18 tahun memiliki asma akibat polusi udara. Sementara sebanyak 543.000 kematian anak usia dibawah 5 tahun tiap tahun karena penyakit pernapasan yang berhubungan dengan polusi udara.

“Polusi udara juga berhubungan dengan risiko ISPA, penurunan fungsi paru, risiko kanker pada anak, gangguan perkembangan mental dan motorik, serta gangguna kognitif pada anak dan remaja,” tambahnya.

Baca Lainnya : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Menyikapi Polusi Udara di Jakarta

Sebagai informasi, beberapa penelitian di Asia Pasifik menunjukkan bahwa pajanan polusi udara jangka pendek berhubungan dengan peningkatan gejala pernapaan seperti batuk, sesak napas, hingga terjadinya peningkatan kunjungan rumahs akit akibat infeksi saluran pernapasan, serangan asma hingga penyakit paru obstruktif kronik.

Sementara pajanan polusi jangka panjang berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penurunan fungsi paru, peningkatan risiko asma, penyakit paru obstruktif kronik hingga kanker paru.

“Tahun 2017 di Jakarta hanya 14 hari kualitas udara bersihnya. Sementara tahun 2019, kalau kita pakai standar WHO kualitas udara Jakarta hampir dua bulan ini di bawah standar yang ditetapkan WHO yakni PM 2, 5. Jadi bisa kita bayangkan kalau kita menghirup udara kualitas buruk dalam jangka panjang apa yang akan terjadi,” tambahnya.

Diriya mengatakan, berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sumber pencemaran di Jakarta paling banyak berasal dari transportasi darat, selain dari industri, domestik seperti rumah tangga dan seseorang yang merokok.

Baca Lainnya : BMKG Ungkap Hasil Analisis Polusi Jakarta Kian Memburuk Hari Ini

“Polusi udara jika terhirup akan langsung masuk ke bagian terdalam paru-paru, partikel yang terhirup bisa masuk sampai ke dalam, karena partikel memiliki ukuran yang sangat halus,” paparnya.

Sementara itu, WHO memperkirakan banyak penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung iskemik, stroke, PPOK, kanker paru akibat polusi udara menyebabkan 62.000 kematian di Indonesia tahun 2012 lalu. sementara sejumlah penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan polusi udara berhubungan dengan masalah kesehatan paru seperti penurunan fungsi paru sebanyak 21-24 persen, asma 1,3 persen, PPOK dengan prevalensi 6,3 persen bukan perokok, dan kanker paru 4 persen dari kasus kanker paru pada umumnya.

Untuk itu, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia meminta masalah polusi udara menjadi perhatian khusus semua pihak karena bisa berdampak pada penurunan produktivitas kerja, angka bolos sekolah karena menderika sakit akibat dampak polusi udara buruk.

“Polusi udara menjadi masalah bersama yang juga harus diatasi bersama oleh masyarakat dan pemerintah,” tandasnya. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: