Ramah Lingkungan, Menteri Susi Ajak Nelayan Demak Kelola Rajungan Gunakan 'Bubu'

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
30 Juli 2019   11:30

Komentar
Ramah Lingkungan, Menteri Susi Ajak Nelayan Demak Kelola Rajungan Gunakan 'Bubu'

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti mengikuti kegiatan Sedekah Bumi dan Laut di  pantai Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Senin (29/7/2019). (Foto : Dokumentasi KKP)

Trubus.id -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong pengelolaan rajungan berkelanjutan di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Salah satu langkah yang dilakukan dengan pemilihan alat penangkapan ikan (API) ramah lingkungan berjenis bubu. 

Selain ramah lingkungan, penggunaan API bubu juga menjadikan rajungan lebih terjaga kulitasnya sehingga harga jualnya menjadi lebih tinggi. Rajungan dengan API bubu dapat dijual seharga Rp75.000 – 90.000/kg daripada menggunakan API arad (jenis alat tangkap tidak ramah lingkungan) yang dijual dengan harga yang lebih rendah.

“Gunakan API ramah lingkungan supaya rajungan ini terus ada hingga anak cucu kita. Harga jualnya pun bisa lebih tinggi,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Susi usai mengikuti kegiatan Sedekah Bumi Pudjiastutidan Laut dan penebaran benih kepiting sebanyak 100.000 ekor, rajungan 300.000 ekor dan udang windu 100.000 ekor di perairan  pantai Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Senin (29/7/2019) kemarin.

Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti cantrang membuat usaha penangkapan ikan semakin susah. Beberapa modifikasi alat tangkap cantrang seperti arad juga merusak lingkungan.

Baca Lainnya : KKP Gandeng JICA Wujudkan Koperasi Sektor Kelautan dan Perikanan Mandiri

 “Saya menghimbau agar Bapak Bupati dan Kepala Desa mengganti jika ada yang masih menggunakan alat tangkap arad dengan alat tangkap ramah lingkungan seperti bubu,” ujar Menteri Susi. 

Selanjutnya, Menteri Susi menjelaskan bahwa rajungan telah menjadi komoditas unggulan dan penghidupan utama masyarakat Desa Betahwalang. Sekitar 670 unit kapal perikanan yang melakukan penangkapan rajungan ada di desa ini. Desa Betahwalang bahkan telah ditetapkan sebagai kampung rajungan.

Untuk itu, dalam menjaga kelestarian sumber daya rajungan yang telah menjadi penghidupan masyarakat, Menteri Susi juga berpesan agar rajungan betina yang sedang bertelur tidak ditangkap atau segera dilepaskan kembali ke laut saat tertangkap. 

“1 ekor rajungan bisa menghasilkan lebih 1,3 juta telur. Apabila rajungan yang bertelur ini dibiarkan menetaskan telurnya, dengan asumsi 50%-nya mati saat menetas, kemudian 50%-nya lagi mati saat proses pembesaran, kemudian 50% mati lagi karena faktor alam, 50%-nya mati lagi karena hal-hal lain, atau anggap saja dari 1,3 juta telur tadi yang selamat menjadi rajungan 10 ribu saja, kemudian ditangkap setelah menunggu 4-6 bulan, maka dengan berat per ekor 2 ons, kita bisa menghasilkan 2.000 kg. Kalikan saja dengan harga Rp60ribu misalnya, maka hasilnya sudah seratus juta lebih,” terang Menteri Susi. 

Baca Lainnya : FAO dan KKP Berusaha Cegah Punahnya Ikan Endemik Asal Riau

“Ini baru dari 1 ekor rajungan betina, bagaimana dengan rajungan-rajungan betina yang sedang bertelur yang kita tangkap selama ini. Tidak terbayang besarnya kerugian yang kita dapati selama ini. Oleh karena itu, ibu meminta dengan sangat agar masyarakat tidak lagi membuang-buang nikmat Allah ini. Jangan mengkufuri nikmat,” tambahnya.

Berdasarkan data statistik, kontribusi rajungan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 712 yang meliputi perairan Laut Jawa sekitar 46,6%. Hal ini menunjukkan bahwa WPP 712 merupakan penghasil rajungan terbesar di Indonesia. Data (jumlah) rajungan (terbesar) di Provinsi Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Pemalang, Demak, Pati dan Rembang.

Rajungan merupakan komoditas penting dengan nilai ekspor hasil perikanan terbesar ketiga di Indonesia dengan tujuan ekspor utama adalah Amerika. Nilai ekspor rajungan Provinsi Jawa Tengah mencapai Rp 1,36 triliun di tahun 2018. 

Baca Lainnya : KKP Tangkap 8 Kapal Perikanan Indonesia Pekerjakan Warga Filipina

Menteri Susi menjelaskan, semakin tingginya permintaan rajungan memungkinkan terjadinya penurunan stok rajungan di alam. Untuk itu, ia mendorong masyarakat setempat untuk melakukan pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan agar sumber daya ini tetap lestari.

“Jangan buang sampah di sungai atau laut. Lalu, stop pendangkalan di muara sungai. Jangan habisi bakau karena nanti sedimentasinya naik lagi. Selain itu, saya berharap juga ke depannya nanti diatur supaya 100 meter dari pesisir yang adalah daerah larva rajungan ini tidak boleh ada penangkapan. Supaya apa? Supaya mereka besar, beranak, bertelur dulu,” ucap Menteri Susi. 

Persoalan sampah telah menjadi persoalan bersama umat manusia yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Untuk itu, Menteri Susi kembali berpesan agar masyarakat untuk berhenti membuang sampah di laut. “Ibu tidak menginginkan Bapak-bapak nelayan pergi melaut pulang membawa tangkapan sampah plastik, karena ikannya sudah tidak ada, yang ada hanya plastik,” ujarnya.

Sebagai informasi pada tahun 2018, KKP melalui Ditjen Perikanan Tangkap (DJPT) telah memberikan bantuan API bubu sebanyak 1.800 unit, ditambah lagi dengan tahun 2019 ini sebanyak 1.000 bubu. Bubu yang diberikan merupakan buatan pengrajin dari Desa Betahwalang. Artinya, bantuan bubu ini berasal dari masyarakat Betahwalang dan untuk masyarakat Betahwalang. [NN]

 

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: