Erupsi Tangkuban Parahu dalam Linimasa

TrubusNews
Hernawan Nugroho
29 Juli 2019   09:00 WIB

Komentar
Erupsi Tangkuban Parahu dalam Linimasa

Petugas BPBD Kabupaten Bandung Barat melakukan pengamatan di Kawah Gunung Tangkuban Parahu (Foto : Ayobandung)

Trubus.id -- Ditilik dari sejarahnya, erupsi kali ini bukanlah yang pertama dan melengkapi deretan akivitasnya. 

Menurut T Bachtiar dan Dewi Syafriani dalam buku Bandung Purba, orang yang sempat mencatat letusan pertamanya adalah botanis sekaligus geologis bernama Franz Wilhelm Junghuhn.  

Ia adalah seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman. Berdasarkan catatan yang dibuatnya pada tahun 1853, catatan pertama tentang letusan Gunung Tangkuban Parahu adalah tahun 1829.

Baca Lainnya : Erupsi Gunung Tangkuban Parahu Tidak Pengaruhi Aktivitas Sesar Lembang

Tak ada data tentang letusan sebelumnya. Setelah itu, gunung beristirahat selama 17 tahun. Letusan berikutnya terjadi tahun 1846. Setelah itu gunung tercatat aktif berturut-turut tahun 1862 dan 1887. Letusan besar berikutnya terjadi tahun 1896 setelah gunung mengalami masa istirahat 50 tahun.

Kawasan Wisata Gunung Tangkuban Parahu Ditutup sementara aktivitas atau letusan kemudian terjadi tahun 1910, 1929, 1935, 1946, 1947, 1950, 1952, 1957, 1961, 1965, 1967, 1969, 1971, 1983, 1992, 1994, 2004 dan 2013. 

Masa istirahat antar letusan Gunung Tangkuban Parahu berlangsung antara 30-70 tahun. Bagaimana kalau Gunung Tangkuban Parahu meletus?

Baca Lainnya : Gubernur Jawa Barat Minta Warga Tak Sebar Hoaks Gunung Tangkuban Parahu

Menurut ayobandung.com, pada tahun 2005, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Daerah sudah membuat Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Tangkuban Parahu.

Daerah-daerah yang rawan bencana dibagi ke dalam tiga kategori. Masing-masing Kawasan Rawan Bencana I, II, dan III.

Ada yang berada dalam radius 1 kilometer dari letusan, 5 kilometer dari letusan, dan yang berpotensi terkena terjangan lahar dan hujan abu atau lontaran batu pijar.

Dalam buku Bandung Purba disebutkan, lembah yang berpotensi dilanda lahar meliputi Ciasem, Cimuja, Cikole, Cibogo, Cikapundung, Cihideung, Cibeureum, dan Cimahi.

Gunung Tangkuban Parahu sendiri lahir 90.000 tahun lalu. Gunung ini lebih muda dari Gunung Burangrang.

Gunung Burangrang yang berada di sisi barat Tangkuban Parahu lahir sekitar 210.000-105.000 tahun lalu.

Baca Lainnya : PVMBG Sebut Gunung Tangkuban Parahu Masih Berpotensi Erupsi

Gunung Burangrang ini sezaman dengan Gunung Sunda. Bachtiar juga memaparkan bahwa Gunung Tangkuban Parahu lahir setelah terjadinya Patahan Lembang.

Ketika Gunung Tangkuban Parahu meletus, sebagian material alirannya yang mengarah ke selatan tertahan di kaki patahan.

Sepanjang sejarahnya, aktivitas yang terjadi di Gunung Tangkuban Parahu telah membentuk 13 kawah.

Tiga kawah di antaranya populer dijadikan destinasi wisata, yakni Kawah Ratu, Kawah Upas, dan Kawah Domas.

Rincian 13 kawah lengkapnya sebagai berikut. Kawah Upas terdiri dari Kawah Upas (termuda), Kawah Upas (muda), dan Kawah Upas (tua). Kawah Ratu juga ada Kawah Ratu (1920), Kawah Ratu (muda), dan Kawah Ratu (tua).

Baca Lainnya : Update, Perkembangan Terkini Pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu

Kemudian ada Kawah Baru, Kawah Pangguyanganbadak, Kawah Badak, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, dan Kawah Domas.  Gunung Tangkuban Parahu sempat meletus beberapa kali.

Sementara itu, kabar terakhir yang dilansir Antaranews menyebutkan, sejak mengalami erupsi pada Jumat (26/7) lalu kondisi di sekitar Gunung Tangkupan Parahu masih dinyatakan belum sepenuhnya aman.

Hingga Sabtu (27/7) tidak terlihat terjadi di erupsi susulan, namun gempa tremor berskala kecil rupanya masih sangat terasa.

Berdasarkan siaran pers Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kolom abu vulkanik menyembur keluar hingga ketinggian 200 meter di atas puncak, atau kurang lebih 2.284 meter di atas permukaan laut. 

Baca Lainnya : Usai Erupsi, Gunung Tangkuban Perahu Ditutup Sementara

Sumber dari Tirto yang menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bandung Barat menyatakan, belum dapat mencabut status level I Gunung Tangkuban Parahu.

Meskipun sudah ada penurunan aktivitas, gunung yang menjadi objek wisata ini, BPBD menyatakan masih menunggu kepastian dari PVMBG bila status level I yang berarti gunung berada di level dasar dan tidak akan meletus pada waktu tertentu.

“Iya laporan dari petugas kami relatif menurun. Kami masih nunggu dari PVMBG. Status masih level satu,” ucap Kepala Seksi (Kasi) Logistik BPBD Kabupaten Bandung Barat, Danan saat dihubungi pada Sabtu (27/7).

PVMBG menyatakan, berdasar analisis gunung ini masih memiliki potensi erupsi sebab terdapat tremor yang berkelanjutan. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: