Peneliti LIPI Lakukan Pelacakan Jejak Tsunami Masa Lalu di Pantai Selatan Jawa

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
25 Juli 2019   13:30

Komentar
Peneliti LIPI Lakukan Pelacakan Jejak Tsunami Masa Lalu di Pantai Selatan Jawa

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto (Foto : Astri Sofyanti/ Trubus.id)

Trubus.id -- Beberapa waktu lalu masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah pesisir selatan Jawa, dikejutkan dengan berbagai pemberitaan akan terjadinya gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8,8 yang diikuti tsunami setinggi 20 meter di pantai Cilacap, Yogyakarta, sampai Jawa Timur.

Padahal kala itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan pernyataan agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang beredar, namun zona megathrust selatan Jawa memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum 8,8 yang perlu diwaspadai dengan upaya mitigasi struktural dan non struktural.

Salah satu yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yaitu melakukan pelacakan jejak tsunami masa lalu di pantai Selatan Jawa. Perjalanan peneliti paleotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), disampaikan dalam dokumenter "The Untold Story of Java Southern Sea".

Baca Lainnya : BMKG Ajak Masyarakat Bedakan Potensi dan Prediksi Gempa Megathrust

Selain melalui penggalian deposit tsunami, Eko melacak keberadaan tsunami pada masa lalu melalui kisah-kisah dongeng dan mitos. Metode ini dikenal sebagai geomitologi dengan keyakinan bahwa mitos-mitos kerap menyimpan informasi tentang suatu peristiwa pada masa lalu.

“Prinsip yang digunakan adalah bumi mempunyai siklus untuk peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya apakah itu letusan gunung, tsunami, banjir, gempa, dan sebagainya,” demikian disampaikan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto saat ditemui Trubus.id di Kantor Pusat LIPI, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (25/7).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, mitos Ratu Kidul diyakini adalah metafora pernah terjadi gelombang besar di pantai Selatan Jawa.

“Tetapi untuk kebutuhan politik dari Panembahan Senopati yang ingin menjadi raja baru sedangkan dia bukan keturunan langsung raja, maka perlu legitimasi politik yang dikemas dalam bentuk mitos turun temurun,” tambahnya.

Baca Lainnya : Perlu Adanya Mitigasi Potensi Gempa Magnitudo 8,8 di Selatan Pulau Jawa

Dirinya menjelaskan, selama ini keberadaan mitos sudah mengakar kuat di masyarakat hanya saja masyarakat belum paham pesan-pesan yang ada di baliknya.

“Kalau kita bisa membuka isi pesan maka bisa jadi medium penyadaran dan kesiapsiagaan bencana secara mudah untuk masyarakat,” lanjutnya.

Selain melakukan penelusuran dongeng lokal serta penggalian deposit, Eko bersama peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI kini tengah menyiapkan peta rendaman tsunami dalam skala detail 1:10.000.

“Peta topografi yang paling detail di Indonesia skalanya baru 1:25.000 dan itu pun hanya melingkupi wilayah Jawa. Di luar wilayah Jawa, skalanya lebih tidak detail,” terangnya.

Baca Lainnya : Aktivitas Lempeng Indo-Australia Picu Gempa Bumi Magnitudo 4,9 di Bali

Ia mengatakan bahwa peta tersebut dapat menjadi acuan kuat untuk perencanaan tata ruang wilayah pesisir. Dari peta tersebut akan bisa dipetakan data dasar ancaman tsunami seperti daerah yang tergenang sehingga bisa dihitung risiko dan direncanakan upaya pengurangan risikonya.

Peta ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2020 mendatang dengan tahap awal di 12 daerah yang memiliki kerentannan tinggi seperti Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Kebumen, Yogyakarta, dan Pacitan.

“Perlu segera dipikirkan strategi pengurangan risiko oleh pemerintah daerah dengan efek pembangunan di jalur Selatan Selatan Jawa,” tandas Eko. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: