Bongkahan Hitam di Pantai Balikpapan Ternyata Batubara

TrubusNews
Thomas Aquinus
23 Juli 2019   11:30 WIB

Komentar
Bongkahan Hitam di Pantai Balikpapan Ternyata Batubara

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kepala Dinas Lingkunan Hidup Balikpapan Suryanto mengatakan, bongkahan berwarna hitam yang terdampar bersama sampah plastik di sepanjang pantai di Kota Minyak dipastikan adalah batubara.

“Kemarin kami kumpulkan itu bongkahan-bongkahan, lalu kami minta Sucofindo teliti. Dan hasilnya memang benar batubara,” ujar Kepala Dinas Lingkunan Hidup Balikpapan Suryanto, Selasa (23/7).

Sucofindo sendiri merupakan layanan jasa laboratorium profesional dalam berbagai keperluan, diantaranya untuk mengukur atau memastikan keberadaan suatu zat dalam satu substansi, seperti zat apa saja yang terkandung dari sampel air yang diambil dari tempat tertentu, atau seperti yang diminta DLH, zat apa sebenarnya yang terdampar antara lain di pantai di belakang Asrama Polisi Segara di Pasar Baru, Klandasan Ilir, tersebut.

Baca Lainnya : Aktivis Lingkungan: Penggunaan Batubara Ancam Kesehatan Manusia

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup, pada Minggu (21/7) telah mengumpulkan bongkahan-bongkahan batubara itu dan terkumpul hingga enam ton. "Batubaranya ada yang sudah lama terdampar, ada yang masih baru,” ujar Suryanto.

Indikasi bongkahan tersebut merupakan batubara diakui lama diketahui karena biota laut yang menempel. Kemudian pada batu bara yang masih, bentuknya masih tajam-tajam pada sisi-sisinya dan terlihat masih mulus.

Ramainya perairan Selat Makassar di depan Balikpapan yang dilalui ponton-ponton pengangkut batubara diduga kuat dari ponton-ponton itulah batubara terdampar di pasir pantai itu berasal. Apalagi di Teluk Balikpapan ada sejumlah stockpile batubara dan fasilitas bongkar muat batubara.

“Dengan demikian kami akan segera melapor ke Wali Kota,” ujar Suryanto. Berdasarkan laporan itu, menurut Suryanto, Wali Kota bisa segera bersurat kepada gubernur untuk melaporkan keadaan sekaligus meminta gubernur bertindak, sebab kewenangan mengatur perusahaan-perusahaan pertambangan batubara ada pada gubernur.

Baca Lainnya : 9 Proyek PLTU Batubara Rugikan Uang Rakyat

“Bagaimana caranya jangan sampai ada lagi batubara yang jatuh ke laut,” ujar Suryanto.

Sementara ini, batubara yang terdampar tersebut masih dikategorikan aman karena tidak mengubah warna air laut. Juga meskipun jumlah yang ditemukan di pantai banyak, namun masih terpisah-pisah.

Namun di sisi lain, sebelumnya kejadian batubara yang jatuh ke laut sudah pernah dikeluhkan nelayan Balikpapan. Juni 2018 lampau, para nelayan bahkan berdemonstrasi ke laut.

Tidak kurang dari 100 kapal nelayan berbondong-bondong hingga 7 mil dari pantai mendatangi dua ponton batubara yang akan memindahkan muatannya ke kapal kargo. Para nelayan naik ke ponton dan menempelkan spanduk-spanduk besar ke badan ponton. Spanduk itu antara lain bertuliskan “Usir Ponton Batubara dari Wilayah Tangkapan Nelayan”.

Baca Lainnya : Ternyata Industri Batubara Jadi Salah Satu Penyebab Polusi Udara

Para nelayan dari Manggar dan Lamaru sebelumnya mengeluhkan, bahwa kini yang masuk ke jala mereka bukan lagi ikan, tapi bongkahan batubara. Tangkapan ikan nelayan pun menurun drastis, dari bisa 40-50 kg lebih sekali melaut menjadi hanya separonya, bahkan kadang nihil.

“Perusahaan harus bertanggungjawab,” kata Sakirang, koordinator nelayan saat itu dilansir Antaranews.

Perusahaan, yaitu PT GB pun akhirnya memindahkan bongkar muat ship to ship (STS) yang dilakukan 7 mil dari Pantai Manggar menjadi lebih jauh lagi ke tengah laut. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Masalah Subsidi Pupuk, Begini Solusi Pakar IPB

Peristiwa   19 Jan 2021 - 08:37 WIB
Bagikan:          
Bagikan: