CEO ITFC: Kopi Torabika Asal Tanah Karo, Paling Terkenal dan Diminati Pasar Internasional

TrubusNews
Syahroni
20 Juli 2019   16:00 WIB

Komentar
CEO ITFC: Kopi Torabika Asal Tanah Karo, Paling Terkenal dan Diminati Pasar Internasional

Hani Salem Sonbol, CEO International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC). (Foto : Trubus.id/ Reza Perdana)

Trubus.id -- Komoditi kopi Arabika asal Sumatera Utara (Sumut) merupakan yang terkenal dengan kualitas dan diminati di pasar internasional. Hal ini diakui Hani Salem Sonbol, CEO International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC).

"Para penikmat kopi yang berada di Jeddah kebanyakan suka menikmati kopi asal Sumut, khususnya Arabika dari Tanah Karo, termasuk saya, aromanya begitu khas," kata Hani Salem Sonbol, Sabtu (20/7).

Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah, juga menceritakan pengalamannya menikmati Kopi Sumatera saat berkunjung ke Rusia. Saat itu ia singgah ke kota kecil dan singgah ke salah satu kedai kopi, dan pada dinding kedai kopinya banyak tulisan tentang ragam Kopi Sumatera.

Baca Lainnya : Menko Darmin Buka Peluang Ekspor Kopi ke Prancis

"Jadi, begitu terkenalnya Kopi Sumatera ini, kita harus manfaatkan itu," ujarnya.

Sampai saat ini, selain Jeddah ada enam negara yang menjadi langganan Kopi Sumatera. Negara yang sangat berminat dengan Kopi Sumatera itu diantaranya Amerika, Jerman, Jepang, Korea, Belanda, dan China.

"Karena minat yang cukup tinggi itu pula, pertumbuhan petani kopi di Tanah Karo cukup signifikan," ungkap Bupati Kabupaten Karo, Tarkelin Brahmana.

Beberapa tahun terakhir pertanaman berkembang secara signifikan di Tanah Karo. Sampai tahun 2018 luas tanaman kopi di Kabupaten Karo mencapai 9.178,44 hektare dan luas panen 6.875 hektare, dengan produktivitas 1.931,60 kg/hektare/tahun.

"Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumut yang 80% masyarakatnya hidup dari sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat dari PDRB sektor pertanian sebesar 56%," sebutnya.

Baca Lainnya : Kementan Ekspor 134 Ton Kopi ke Georgia dengan Nilai Ekonomi Rp134 Miliar

Kordinator Program Petrasa, Lidia Naibaho mengatakan, walau ditopang alam yang subur, ternyata hasil produksi kopi dari Tanah Karo masih perlu ditingkatkan lagi. Hal itu karena masih banyak petani yang belum memahami proses pengolahan pascapanen secara benar.

"Hampir satu tahun di Karo, kami membuat pelatihan dasar kepada petani kopi tentang membuat pupuk organik hingga pengolahan pascapanen pada kopi. Diharapkan, produksi kopi di daerah ini semakin meningkat," ucap Lidia. 

Petrasa merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memberikan pelatihan kepada petani kopi di Dairi dan Karo, agar mampu meningkatkan produktivitasnya. [RN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Kabut Asap Beracun Selimuti Australia Bagian Timur

Peristiwa   10 Des 2019 - 19:26 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: