Update Gempa Halmahera Selatan, BNPB: Enam Warga Meninggal Dunia

TrubusNews
Astri Sofyanti
17 Juli 2019   09:59 WIB

Komentar
Update Gempa Halmahera Selatan, BNPB: Enam Warga Meninggal Dunia

Desa Tabamasa di Halmahera Selatan yang terdampak gempa magnitudo 7,2 (Foto : Dok.Humas BNPB)

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa sampai saat ini jumlah korban meninggal akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 di Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Dalam siaran pers yang diterima Trubus.id, Rabu (17/7) Plh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo menyatakan lima korban diantaranya meninggal akibat reruntuhan bangunan, sedangkan satu korban meninggal di pengungsian.

Baca Lainnya : Gempa Halmahera Selatan, BNPB Catat Lebih dari 2.000 Orang Mengungsi

Satu korban meninggal dunia, Saima (90), warga Nyonyifi meninggal dunia di pengungsian daerah dataran tinggi di Desa Nyonyifi, Kecamatan Bacan Timur. Sementara lima korban meninggal dunia lainnya yakni, Aisyah (54 tahun), asal Desa Ranga-Ranga, Gane Barat Selatan; Aspar Mukmat (20), Desa Gane Dalam, Gane Timur Selatan; Sagaf Girato (50), Desa Yomen, Joronga; Aina Amin (50), Desa Gane Luar Kecamatan Gane Timur Selatan; dan Wiji Siang (60), Desa Gane Luar Kecamatan Gane Timur Selatan.

Diakui Agus, bantian logistik akan terus mengalir untuk penanganan darurat. BNPB mengirimkan satu unit helikopter Mi-8 untuk mendistribusikan bantuan, seperti tenda keluarga dan barang lainnya. Bantuan tenda lain telah disiapkan pengirimannya melalui pesawat Hercules yang tiba pada malam tadi (16/7).

Baca Lainnya : BMKG Jelaskan Penyebab Halmahera Selatan Kerap Menjadi Langganan Gempa, Ini Sejarahnya

Selain pengiriman via udara, BNPB juga telah mengirimkan dukungan logistik melalui kapal. Bongkar muat dari kapal tanker ke kapal yang lebih kecil telah dilakukan.

"Sejauh ini Pemerintah Halmahera Selatan telah membentuk pos komando (posko) untuk melakukan penanganan darurat. Dapur umum yang dioperasikan pemerintah daerah (pemda) yang dibantu TNI dan Polri untuk melayani 9 pos pengungsian di Kota Labuha. Pemerintah setempat menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari, terhitung 15 - 21 Juli 2019," pungkas Agus. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: