BMKG Jelaskan Penyebab Halmahera Selatan Kerap Menjadi Langganan Gempa, Ini Sejarahnya

TrubusNews
Binsar Marulitua
15 Juli 2019   14:00 WIB

Komentar
BMKG Jelaskan Penyebab Halmahera Selatan Kerap Menjadi Langganan Gempa,  Ini Sejarahnya

Sejarah gempa tektonik Maluku Utara (Foto : BMKG/Daryono)

Trubus.id -- Gempa bumi magnitudo 7,2 pada Minggu (14/7) di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara terus membuat rentetan gempa sebanyak 61 kali hingga (15/7) pukul 05.00 WIB. Satu orang meninggal dunia di Kelurahan Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menjelaskan, secara tektonik wilayah Halmahera Selatan termasuk kawasan seismik aktif dan kompleks. 

Aktif artinya kawasan Halmahera Selatan memang sering terjadi gempa yang tercermin dari peta seismisitas regional dengan klaster aktivitas gempanya cukup padat Disebut kompleks karena zona ini terdapat 4 zona seismogenik sumber gempa utama, yaitu Halmahera Thrust, Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan. 

Baca Lainnya : 40 Gempa Susulan Terjadi Pasca-gempa Magnitudo 7,2 Guncang Halmahera Selatan

"Adapaun ketiga sistem sesar: Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan merupakan “percabangan” atau splay dari Sesar Sorong yang melintas dari timur membelah bagian atas kepala burung di Papua Barat," jelas Daryono, Senin (15/7).

Daryono menambahkan di Pulau Batanta, ke arah barat Sesar Sorong mengalami percabangan. Pada percabangan yang paling utara yaitu Sesar Sorong-Bacan inilah yang selama ini menyimpan akumulasi medan tegangan kulit bumi yang akhirnya terpatahkan sebagai gempa berkekuatan M=7,2 yang terjadi kemarin sore.

"Sesar Sorong-Bacan inilah pemicu Gempa Halmahera Selatan,' tambahnya. 

Ia juga mengungkap  catatan sejarah gempa kuat dan merusak di Halmahera cukup banyak. Setidaknya di wilayah itu terjadi tujuh kali gempa kuat, yaitu gempa Pulau Raja pada 7 Oktober 1923 dengan magnitudo 7,4 dan intensitas VIII MMI.

Baca Lainnya : Gempa M 7,2 di Maluku Utara Akibat Pergeseran Sesar Sorong-Bacan

Selain itu, gempa Bacan pada 16 April 1963 bermagnitudo 7,1 skala intensitas VIII MMI, gempa Pulau Damar pada 21 Januari 1985 magnitudo 6,9 intensitas VIII MMI, serta gempa Obi pada 8 Oktober 1994 magnitudo 6,8 intensitas VI-VII MMI.

Gempa Obi magnitudo 6,7 pada 13 Februari 1995 dengan intensitas VIII MMI, dan gempa Labuha 20 Februari 2007 magnitudo 6,7 intensitas VII MMI. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: