Memasuki Revolusi Industri 4.0, Kementan Prioritaskan Program Pengembangan SDM

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
15 Juli 2019   13:30

Komentar
Memasuki Revolusi Industri 4.0, Kementan Prioritaskan Program Pengembangan SDM

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri (Foto : Dok. Kementerian Pertanian)

Trubus.id -- Guna mendukung Revolusi Industri 4.0, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mengembangkan aspek sumber daya manusia untuk mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

"Setelah pembangunan inftrastruktur, tekad pemerintah adalah menjadikan pembangunan sumberdaya manusia sebagai prioritas utama," demikian dikatakan Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, dalam siaran pers yang diterima Trubus.id, Senin (15/7/19).

Lebih lanjut diakuinya, pemerintah terus menyelenggarakan berbagai kegiatan bimbingan teknis, serta mendistribusikan bantuan alat dan mesin pertanian untuk membantu meningkatkan produktivitas petani.

Baca Lainnya : Kementan Ingin Berdayakan Lahan Rawa Menjadi Area Pertanian

"Pola ini mempermudah generasi muda supaya bisa mengendalikan mesin tanpa harus berkubang dengan lumpur. Disisi lain, upaya ini secara perlahan telah membuka mata banyak orang terhadap profesi petani," ujarnya.

Merespon hal tersebut, Erizal Jamal, Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, Kementerian Pertanian, menjelaskan ke depan pihaknya juga berharap akan membangun standarisasi profesi petani supaya sejajar dengan profesi lain. Patokan standarisasi ini utamanya berkaitan dengan produktivitas dan pendapatan yang diterima. Di samping itu, profesi ini juga akan menjadi acuan utama dalam membuat program dan kegiatan pendidikan, penyuluhan dan pelatihan.

"Upaya ini telah mempunyai landasan hukum dengan adanya Undang-Undang Nomor  19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Program ini yang nantinya membangkitkan potensi petani bersama lahannya," paparnya.

Baca Lainnya : Guru Besar IPB: Kementan Berhasil Gebrak Pasar Ekspor Hortikultura

Sedangkan dalam tataran praktis, dikatakannya upaya ini dilakukan dalam bentuk pengembangan korporasi petani yang dilaksanakan bersama Peraturan Menteri Pertanian Nomor 18/Permentan/RC.040/4/2018 Tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani.

"Beberapa waktu lalu citra petani masih digambarkan suram, yaitu kelompok produktivitas rendah, bekerja di tempat yang kotor serta sangat lekat dengan kemiskinan. Tapi melalui mekanisasi dan standarisasi semuanya berubah menjadi lebih keren," lanjutnya.

Sebagai informasi, implementasi mekanisasi ini salah satunya adalah lahirnya program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) yang telah menggunakan koorporasi agar dapat memaksimalkan potensi yang ada.

"Seperti kata Pak Menteri, bahwa pekerjaan sebagai petani adalah profesi mulia yang bisa membawa pelakunya hidup sejahtera. Fakta menunjukan bahwa sebagian besar orang terkaya di Indonesia basis usahanya adalah pertanian," ungkapnya lagi.

Baca Lainnya : Kementan, FAO dan USAID Ajak Pekerja Seni Tingkatkan Kesadaran Bahaya Penyakit Hewan

Hal senada juga diungkapkan oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Prof. Luthfi Fatah. Dirinya mendukung upaya pemerintah dalam mentransfomasi pertanian tradisional menjadi pertanian modern. Langkah tersebut sangat tepat untuk mempengaruhi minat anak muda agar terjun langsung ke sektor pertanian.

"Bonus demografi ini adalah peluang yang sangat bagus jika dibarengi dengan pengelolaan sumber daya manusianya. Dalam hal ini, programnya pak Menteri (Amran Sulaiman) soal mekanisasi sangat bagus dan membuka mata anak muda," ujarnya.

Meski demikian, Luthfi menambahkan bahwa mekanisasi yang ada harus diikuti dengan inovasi baru untuk membangkitkan jiwa usaha.

"Sebab kalau dari riset yang kami kembangkan jiwa usaha anak muda sekarang sngat kurang. Makanya harus di imprup supaya mereka bangkit," pungkasnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: